|
Nasional
Pengungsi Aceh Butuh Peningkatan Mutu Makanan
Senin, 24 Januari 2005 | 18:07 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB untuk wilayah Sumatera, Zoel Boetroe, mengatakan para pengungsi Aceh masih membutuhkan peningkatakan kualitas makanan. Ini perlu dilakukan untuk menghindari pengungsi yang mengalami malnutrisi. "Meskipun tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi perlu ada perhatian untuk memperhatikan jatah makanan, juga masalah kebersihan," kata Zoel di Banda Aceh, Senin (24/1). Menurutnya, berdasarkan penelitian secara cepat, di kamp pengungsi Banda Aceh angka malnutrisi mencapai 12,5. Sedangkan, secara nasional angka malnutrisi 9 persen.
Angka ini, tambah Zoel, tidak terlalu mengkhawatirkan, karena penelitian yang dilakukan PBB di Sumatera Barat memperoleh nilai yang sama. Namun, tetap saja memerlukan perhatian.
Dari penelitian yang sama, ternyata tidak ditemukan diare antara para pengungsi termasuk juga yang berada di Pantai Barat. "Mungkin ini karena kebiasaan masyarakat kita yang selalu memasak terlebih dulu air minum," katanya.
Mengenai jumlah para pengungsi saat ini, PBB sedang melakukan penghitungan terhadap kamp yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Telah ada pengurangan jumlah pengungsi di kedua wilayah tersebut. Penelitian yang sedang dilakukan selama tiga hari ini, belum selesai, baru mendata 80 persen tempat pengungsian. Saat ini, jumlah kamp yang ada sekitar 385.
Penurunan jumlah kamp pengungsi, kemungkinan besar karena sebagian pengungsi telah kembali kepada kerabat yang masih hidup. "Mungkin pengungsi saat ini berkurang, karena banyak yang ditampung keluarganya," jelasnya.
Untuk Pantai Barat, juga telah dievaluasi. Menurutnya, seperti halnya dalam penanganan bencana besar maka masalah sanitasi dan jatah makanan diawal bencana, sering kali tidak diutamakan. Namun, saat ini telah mulai dilakukan perbaikan sanitasi dan peningkatan jatah makanan.
Secara umum, lanjut Zoel, masalah koordinasi dengan pemerintah dan badan lainnya untuk membantu Aceh sudah cukup baik. "Namun, kami membutuhkan NGO yang komitmen dengan pembangunan Aceh dalam jangka menengah," kata Zoel. Selama ini, banyak badan/NGO yang membantu di Aceh tapi mereka hadir silih berganti.
Sementara itu, Tengku Muslim Ibrahim, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) NAD mengatakan agar memperhatikan juga para pengungsi yang pulang ke kerabat mereka.
MPU mendata untuk wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar sekitar 9 ribu orang yang mengungsi ke tempat kerabat mereka. "Dari jumlah tersebut, sekitar 600 adalah anak yatim," kata Muslim.
Ia juga menegaskan, jika hendak melakukan relokasi pengungsi harus berdasar keinginan pengungsi sendiri.
Muhamad Fasabeni
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Tumpukan bantuan untuk korban gempa bumi diturunkan dari helikopter di Nusa Tenggara Timur (NTT), 1993. [TEMPO/ Hidayat SG; 14D/456/1993; 20021002].](/hg/photostock/2005/01/14/s_14D45604_high_thumb.jpg) |
![Suasana tempat penampungan pengungsi keturunan Madura di asrama Haji Pontianak setelah terjadi kerusuhan Sanggau Ledo [ Rachmat Cahyono/DR; 20000804 ]](/hg/photostock/2005/01/03/s_00080409_high_thumb.jpg) |
| Bantuan Korban Gempa Bumi
|
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|