|
Nasional
Hari Pertama Anak Aceh Bersekolah
Rabu, 26 Januari 2005 | 01:18 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Pemerintah menetapkan Hari Rabu, Tanggal 26 Januari 2005 sebagai hari pertama bagi anak-anak Aceh korban tsunami untuk masuk sekolah. Pemerintah telah menyiapkan kurang lebih 130 sekolah yang akan digunakan.
Total sekolah yang rusak akibat hantaman tsunami, termasuk sekolah-sekolah madrasah tercatat 750 – 1.100 unit. Nah, anak-anak Aceh ini dibebaskan untuk tidak memakai seragam dan sepatu. Cukuplah mereka mau datang ke sekolah yang paling dekat dengan lokasi pengungsian.
Anas M. Adam, Kepala Dinas Pendidikan Nangroe Aceh Darussalam yakin dapat menampung anak-anak yang hendak bersekolah. Biarpun kata Anas, masih ada sekitar 50 sekolah yang digunakan untuk penampungan pengungsi. "Untuk yang masih digunakan pengungsi, kita akan meminta untuk dipindahkan ke tempat lain," kata Anas di di Banda Aceh, Selasa (25/1).
Soal pemindhan pengungsi dai sekolah-sekolah ini dibenarkan Menko Kesra, Alwi Shihab. "Kita akan pindahkan ke tempat lain, seperti 1.100 pengungsi di sekolah Ujung Puteh, camatnya telah menegaskan akan memindahkan mereka hari ini,"kata Alwi.
Sekolah-sekolah yang telah dibuka ini akan memberlakukan jam masuk pagi dan sore. Menurut Anas, ini dilakukan agar dapat menampung seluruh anak yang hendak sekolah. Dan dimanapun anak-anak itu bersekolah, akan dilakukan pendataan. Sesuatu yang menurut Anas, telah dilakukan dan diumumkan melalui media massa beberapa waktu lalu.
Situasi seperti ini diperkirakan Anas akan berlangsung hingga satu bulan. Untuk Banda Aceh, jumlah anak-anak yang kembali ke sekolah, baik sekolah umum maupun sekolah agama sekitar 75 persen. Untuk daerah-daerah terpencil, seprti Calang yang kondisinya teramat parah, Anas memperkirakan angka kembali sekolah tak lebih dari 30 persen.
Soal kesiapan para guru untuk mengajar, Anas mengantisipasinya denganmengerahkan para guru relawan yang telah mendaftarkan diri. Jumlahnya cukup melegakan, “ada dua ribuan guru relawan yang akan membantu hingga 3 bulan mendatang," kata Anas. Mereka ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan guru yang diperkirakan hilang sebanyak 1.757 orang.
"Belum lagi para guru yang saat ini sakit sekitar 500 orang," kata Anas. Dibandingkan jumlah total guru di seluruh Aceh yang jumlahnya mencapai 40 ribu orang, jumlah guru yang hlang ini sekitar 2 persen saja. Tapi untuk Banda Aceh dan Aceh Besar, angka kehilangan ini mencapai 35 dan 20 persen. Ke depan, pihak dinas pendidikan NAD berencana merekrut guru baru. Menruut Anas, pihaknya akan mengutamakan putra daerah Aceh untuk mengisi posisi pengajar ini.
Untuk sementara, para guru relawan akan dibantu badan dunia untuk anak-anak (UNICEF) dalam soal pembayaran gaji selama enam bulan. Besarnya, “belum ada keputusan, tapi standar nasional saja, sebesar Rp 500 ribu per bulan," ucap Anas. UNICEF juga kata Anas memberi bantuan perlengkapan sekolah untuk penunjang kegiatan belajar.
Muhammad Fasabeni (Banda Aceh)
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|