|
Nasional
Belasan Anak Hilang Pascagempa di Palu
Rabu, 26 Januari 2005 | 07:21 WIB
TEMPO Interaktif, Palu:Sejumlah orang tua di Palu, Sulawesi Tengah, kemarin kebingungan mencari anak mereka yang hilang setelah terjadinya gempa tektonik pada Senin (24/1) lalu. Anak-anak itu diperkirakan hilang saat warga kota dilanda kepanikan dan melarikan diri ke dataran tinggi. Kebingungan para orang tua itu terlihat di empat lokasi pengungsian, yaitu Bukit Jabal Nur, Kawatuna, Peboya, dan Pegunugan Gawalise.
Seorang ibu bernama Rosna, warga Jalan Dewi Sartika, Palu Selatan, mondar-mandir mencari anaknya di lokasi pengungsian Kawatuna. Saat kejadian, ia terpaksa menitipkan anaknya kepada pengendara truk yang lewat menuju Kawatuna ketika berusaha menyelamatkan diri. Saat itu dia tak kuat lari sambil menenteng anaknya, Risman, yang baru berumur 4 tahun. "Saya sewa ojek cari anak saya, tapi hingga kini belum ketemu," katanya gundah. Ibu yang sudah menjanda ini sudah mendatangi truk yang membawa anaknya. Namun, sopir truk mengatakan, anaknya diturunkan di kawasan Kawatuna bersama ribuan pengungsi lain.
Gempa berkekuatan 6,2 skala Richter tersebut membuat kota Palu yang berpenduduk 220 ribu jiwa lumpuh total. Bencana ini menewaskan tiga orang dan merusakkan lebih dari 250 rumah dan bangunan lain. Warga yang takut akan terjadi gelombang tsunami berlarian mengungsi ke dataran tinggi, sehingga ibu kota Sulawesi Tengah itu kosong. Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Ariyanto Sutadi menyatakan, kota Palu dalam status siaga satu. Hingga kemarin, warga masih mendirikan tenda-tenda di dataran tinggi karena masih merasa takut pada gempa susulan.
Fataruddin, 43 tahun, yang masih bertahan di pengungsian Kawatuna, mengatakan, sedikitnya ada 15 orang yang datang ke lokasi pengungsian mencari anaknya. Satuan Koordinasi Pelaksana Pengungsi dan Bencana Provinsi Sulawesi Tengah juga didatangi belasan orang tua yang melaporkan kehilangan anak mereka. Kebanyakan anak-anak tersebut hilang karena dititipkan kepada pengendara mobil saat lari menyelamatkan diri.
Sersan Kepala Rahman, anggota TNI yang bertugas di Korem 132 Tadulako, Palu, juga sempat kehilangan lima anggota keluarganya. Tetapi dia berhasil menemukan keluarganya setelah menyisir empat lokasi pengungsian. "Saya sempat stres berat karena sampai malam keluarga saya belum ketemu."
Kemarin, aktivitas perkantoran di Palu terlihat masih sepi. Di kantor Gubernur, hanya terlihat satu mobil dinas, yaitu mobil Gubernur Aminudin Ponulele. Di Rumah Sakit Undata, Palu, pasien yang kembali baru 30 orang. Sebelum terjadi gempa, ada 189 orang dirawat di sana. Sisanya belum diketahui keberadaannya.
Kepala Rumah Sakit Undata, Palu, dr Riri Lamajidho, mengkhawatirkan pasien yang melarikan diri tidak akan kembali. "Saya khawatir ini akan berkonsekuensi dengan pembayaran rumah sakit," katanya.
Sementara itu, dari Sumatera Utara dilaporkan, kemarin terjadi gempa kekuatan 5,2 skala Richter melanda kota Padang Sidempuan, sekitar pukul 15.54 WIB. Guncangan ini membuat warga panik dan berkumpul di jalan-jalan menghindari runtuhan bangunan.
Muhamad Darlis/Hambali/Bambang Soed
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|