Angin Diduga Gelincirkan Pesawat Mandala
Sabtu, 12 Februari 2005 | 19:21 WIB
TEMPO Interaktif, Semarang: Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Setio Rahardjo memastikan
tidak ada permasalahan serius pada mesin pesawat Mandala yang tergelincir di Bandara
Ahmad Yani semalam, sebelum pendaratan.
Dia hanya mengatakan bahwa saat mendarat, ada angin dari belakang yang ikut mendorong
ekor pesawat (ail wind) pesawat dengan nomor penerbangan RI 296 itu, sehingga membuatnya
tergelincir. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela penyelidikan, Sabtu (12/2) siang.
"Yang jelas saat mendarat memang ada tail wind. Ini diperoleh dari keterangan petugas
di tower (menara kontrol)," kata Setio.
Dia menjelaskan, kecepatan angin saat pendaratan mencapai 14 knot. Hujan juga cukup
kencang, dan jarak pandang mencapai seribu meter. "Dalam kecelakaan ini (penyebabnya)
bukan single factor, tapi yang jelas hingga mau mendarat tidak ada masalah di mesin,"
ujarnya.
Saat ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi masih menyelidiki kondisi air di
landasan. Sejauh ini, kontribusi terbesar kecelakaan pesawat, menurut dia, karena cuaca.
Setio mengatakan, keterangan baru diperoleh dari manajemen pengelola Bandara Ahmad Yani.
Sedangkan pencarian keterangan dari kru pesawat dilaksanakan di Jakarta. "Pilot akan kami
tanya di Jakarta, mudah mudahan bisa minggu depan," katanya.
Hingga kemarin, bandara masih tertutup bagi penerbangan pesawat berbadan besar. Penerbangan
menuju ke Jakarta dengan maskapai Garuda sebanyak delapan penerbangan dialihkan
pemberangkatannya dari Solo. Dari pantauan Tempo, sejumlah bus dikerahkan mengangkut para
penumpang yang berangkat ke Jakarta atau dari Jakarta melalui Solo.
Beberapa penerbangan dengan jenis pesawat pendek seperti milik Deraya Air, Kalstar, dan
Trigana tetap diberangkatkan dari Bandara Ahmad Yani. "Penerbangan kami masih normal,
tetap berangkat dari sini," kata Suhaini, petugas di counter Deraya Air.
Pesawat Mandala yang tergelincir masih belum dievakuasi. Hal ini karena peralatan untuk
mengevakuasi yakni Salvage masih dalam perjalanan dari Jakarta. Ketegangan sempat terjadi
karena kedatangan tim evakuasi dari Air Salvage Asia tidak membawa serta peralatan.
Hal ini membuat Direktur Teknik Mandala Airline menolak evakuasi yang akan dilakukan.
Tim evakuasi pun akhirnya tak jadi melakukan tugasnya. Evakuasipun dilakukan menunggu
kedatangan salvage.
Dian Yuliastuti-Tempo





