LSM Malaysia Kecam Pengaitan Isu TKI dengan Ambalat

Sabtu, 12 Maret 2005 | 06:53 WIB

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur: Sejumlah LSM di Malaysia minta agar kerajaan Malaysia dan Indonesia
membincangkan isu Ambalat secara tegas dan diplomatis. LSM tersebut adalah Suara Rakyat
Malaysia (Suaram), Labour Resources centre (LRC) dan Persatuan Sahabat Selangor. Angkatan
Muda Partai Keadilan Rakyat Khairul Anuar Zainuddin juga menyuarakan harapan senada.
"Kami berharap kepada kerajaan Malaysia dan Indonesia agar tidak mengeksploitasi atau coba
menggunakan isu pekerja asing dalam isu pertikaian kawasan minyak di Laut Sulaweasi."

Baru-baru ini Malaysia telah mengumumkan memberi tempo batas waktu selama sebulan kepada
Indonesia untuk memperbaiki dan mempercepat proses kembali pekerja asing Indonesia ke
Malaysia. Angkatan Muda PKR melihat tindakan ini sebagai satu taktik politik lama Malaysia
untuk memberikan tekanan kepada Indonesia dalam isu pertikaian di Laut Sulawesi. "Kami
heran bagaimana masalah TKI illegal dicampur adukkan dengan isu Ambalat. Seharusnya isu
TKI illegal tidak bertele-tele. Kenapa masalah ini timbul sekarang sedangkan kedua-dua
negara telah melakukan persiapan bersama semenjak hampir 3 bulan yang lalu dengan
pertemuan di tingkat ketua negara dan menteri sebanyak 5 kali dalam menangani isu pekerja
asing ini," kata Khairul.

Angkatan Muda berharap agar mereka tidak menggunakan isu pekerja asing ini dalam kampanye
pertikaian di Laut Sulawesi. Indonesia seharusnya memperbaiki kelemahan terutama dalam
pemrosesan pemulangan semula pekerja ke Malaysia.

LSM ini berpendapat bayaran Rp 2,9 juta (RM 1400) yang dibebankan kepada para pekerja sangat
tinggi dan membebankan. Harus diingat, para pekerja ini juga akan di kenakan bayaran
oleh Malaysia yang berjumlah sekitar RM500 ke RM1500 mengikut sektor pekerjaan yang
diterjuni. Dengan kata lain jumlah yang perlu di tampung oleh seorang pekerja adalah
sekitar RM2000 ke RM3000. "Kami menyeru kepada kerajaan Indonesia agar
menilai semula jumlah bayaran yang mereka kenakan terhadap para pekerja ini."

Angkatan Muda juga meminta Malaysia dan Indonesia serta rakyat di kedua negara untuk tidak
memperjudikan isu pekerja asing demi untuk kepentingan isu pertikaian di Laut Sulawesi.
"Hak seorang pekerja tidak boleh disamakan dengan harga setong minyak," ungkap Khairul.

T.H. Salengke - Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: