Tenggat Waktu Relawan Asing Diperpanjang

Jum'at, 18 Maret 2005 | 06:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia memperpanjang masa kerja relawan asing di Nanggroe Aceh Darussalam hingga 30 sampai 60 hari selepas masa tanggap darurat bencana berakhir 26 Maret. Berdasarkan siaran persnya (17/3), Menteri Koordinator Kesejahteraan rakyat (Menko Kesra) Alwi Shihab mengatakan, alasan perpanjangan ini, "untuk memberi waktu bagi para relawan yang selama ini memberi kontribusi signifikan agar lebih maksimal dalam bekerja."

Tenggat waktu yang ditambah 60 hari ini, masih bisa diperpanjang lagi. "Jika dibutuhkan untuk menjamin masa transisi ke fase rekonstruksi bisa berlangsung efektif dan transparan," ujar Alwi. Selain itu, menurut Aditya Wardhana, konsultan media untuk Menko Kesra, perpanjangan waktu ini diberikan agar pemerintah dapat berkoordinasi lebih baik dengan semua pihak yang terkait di NAD, baik negara-negara donor maupun lembaga-lembaga asing, termasuk PBB. Keputusan Menko Kesra ini, menurut Adit, telah disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono senin lalu.

Perpanjangan waktu ini, sekaligus dipakai pemerintah untuk mengevaluasi master plan dan kontribusi yang bisa diberikan para relawan asing ini. "Relawan asing yang dibutuhkan akan disesuaikan dengan master plan," kata Adit. Lembaga-lembaga PBB sendiri, menurut Adit, berdasarkan skenario ini, belum tentu bisa ikut dalam fase rekonstruksi jika tidak sesuai master plan. Tapi, kemungkinan besar ke-180 lembaga asing yang kini masih ada di Aceh, akan ikut memberikan kontribusinya pada fase rekonstruksi.

Salah satu lembaga yang bersiap menyambut perpanjangan ini adalah lembaga dana darurat untuk anak-anak internasional, UNICEF (United Nation for International Children Emergency Fund). Isu batas tenggat waktu yang diberikan pemerintah Indonesia, menurut perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Gianfranco Rotigliano, bukan sebuah penghalang kerja mereka di Aceh.

"Itu bukan isu utama, kita akan menggunakan waktu sebaik mungkin dan tetap komitmen dengan kerja kita disana," ujarnya di Jakarta kemarin saat jumpa pers dengan duta besar UNICEF yang juga runner up American Idol, Clay Aiken.

Menurut Rotigliano, UNICEF mempunyai beberapa program untuk anak-anak Aceh korban bencana gempa dan tsunami. UNICEF menurutnya, tetap akan mengelola Children Center dan membangun kembali sekolah-sekolah yang rusak sebagai bagian dari program pendidikan mereka. "Kami juga akan merawat anak-anak, termasuk yang menderita trauma, reunifikasi dan program penyembuhan psikososial anak-anak," kata Rotigliano.

Ditempat berbeda, Organisasi Kepanduan Sedunia (World Organisation of the Scout Movement), juga menyatakan komitmennya untuk membantu Aceh pada fase rekonstruksi. Menurut Direktur Komunikasi dan Hubungan Publik WOSM, organisasinya telah mengumpulkan dana sebesar US$ 250 ribu. Dana yang terkumpul akan disalurkan untuk mendanai proyek-proyek rekontruksi dan rehabilitasi, termasuk di Aceh, melalui gerakan Pramuka.

Sementara itu, seiring kian mendekati batas akhir keberadaan militer asing di NAD, militer Jerman, kemarin, berpamitan. Menurut Panglima Satgas Luar Negeri Pasukan Jerman, Letjen Holger Kammerhoff, militer Jerman akan meninggalkan Banda Aceh secara keseluruhan mulai hari ini.

Biarpun bantuan militer sudah pulang kampung, menurut Kemmerhoff, Jerman tetap akan memainkan peranan penting dalam usaha internasional membantu rehabilitasi dan rekontruksi Aceh. "Jerman siap membantu pembangunan berkesinambungan sesuai kebutuhan," kata kammerhoff.

ami afriatni/adi warsidi/yohanes adi wiyanto






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: