|
Nasional
Arbi Sanit: Wajar Aksi Fisik Anggota DPR tentang BBM
Minggu, 20 Maret 2005 | 16:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Dosen ilmu politik FISIP UI Arbi Sanit menyayangkan pemberitaan media massa yang
membesar-besarkan aksi dorong-dorongan anggota DPR dalam sidang paripurna Rabu (16/3) lalu.
"Pers harus meminta maaf pada DPR," katanya saat acara diskusi dengan tema Penolakkan
Kenaikan Harga BBM Ditinjau dari Aspek Ekonomi-APBN, Politik-Hukum di ruang rapat Fraksi
PDIP di DPR, Minggu (20/3).
Menurut Arbi, memperjuangkan penolakkan terhadap kenaikan BBM harus dilakukan semaksimal
mungkin, bahkan bila perlu melibatkan perkelahian fisik seperti yang terjadi Rabu lalu.
"Itu keharusan, karena ada manipulasi yang amat vulgar yaitu pembelokkan keputusan yang
telah disepakati," katanya.
Arbi menjelaskan substansi permasalahan disini adalah membela rakyat atau tidak. "Badan
Kehormatan DPR harus melihat perkelahian fisik adalah akibat dari substansi itu," katanya
menanggapi informasi akan diprosesnya aksi fisik itu oleh Badan Kehormatan.
Ditanya tentang kemungkinan mengambangnya sikap DPR terhadap kenaikan harga BBM, ia
berpendapat hal itu bisa saja terjadi. "Penyelesaiannya memang tidak mudah, jadi sekarang
harus kembali ke akarnya, yaitu masalah APBN. Undang-undangnya belum diubah tapi pada
pelaksanaannya (oleh pemerintah) sudah berubah," katanya.
Dia juga berpendapat pemerintah memang ingin menunda-nunda hasil keputusan paripurna DPR.
"Di DPR ada kaki tangan pemerintah maka sudah pasti penunda-nundaan itu ada," katanya.
Ibnu Rusydi-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
 |
![Protes Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menyerukan agar bulan Juli 2001 Jakarta bebas bensin bertimbel dengan memakai masker di Bundaran HI, Jakarta, Minggu, 22 April 2001. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20010503].](/hg/photostock/2005/03/10/s_BC01042201_high_thumb.jpg) |
| Spanduk Bebas Bensin Bertimbal
|
|
| Protes Komite Penghapusan Bensin Bertimbel
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|