Warga Nias Mulai Bangkit
Selasa, 05 April 2005 | 21:08 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kehidupan di Pulau Nias sudah mulai berjalan normal, setelah gempa bumi mengguncang propinsi Sumatera Utara pada 28/03 lalu. Tiga hari ke hingga seminggu setelah gempa, penduduk yang berada di pedesaan sudah tampak melakukan aktivitas. Beberapa diantaranya bahkan terlihat bermain bola voli melepas penat dan trauma setelah mengalami dua kali gempa dalam tiga bulan terakhir.
Tempo dan tiga wartawan lainnya mengikuti perjalanan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah menyusuri darat untuk memberikan satu unit instalasi pengolahan air di Telik Dalam, Nias Selatan. Medan yang dilalui cukup berat karena masih banyak jalan yang terbelah dan melewati tiga jembatan yang putus. Dua jembatan putus pertama yang berada di daerah Kecamatan Bido Kabupaten Nias sudah diuruk tanah dengan buldoser guna mempermudah akses jalur darat.
Tapi, truk yang mengangkut peralatan instalasi air ini terpaksa menyeberang Sungai Idanegawo sepanjang 100 meter. Sebab, jembatan besar itu patah menjadi dua dan hanya bisa dilalui sepeda motor.
Di Desa Tulumbahu Gido, beberapa warga dengan anak-anak mereka yang masih belita menyantap buah kelapa sebagai ganti beras yang belum terjamah bantuan pemerintah. Namun warga dari atas truk terlihat mulai membenahi rumah-rumah mereka yang rusak.
Di desa Dahana, Kecamatan Bawo Lato Kabupaten Nias, kehidupan sudah kembali normal. Para petempuan mulai menjemur padi yang sudah dipanen. Sebagian dari mereka mencari daun ubi jalar sebagai lauk. Adapun kaum prianya sebagian menyiami daun kelapa untuk memperbaiki atap rumah dan sebagian lainnya duduk santai di depan rumah tanpa melakukan aktivitas apapun.
Di Kecamatan Lahusa, Kabupaten Nias Selatan, yang berada di tepi pantai, pada malam hari tampak seperti kota mati. Banyak rumah yang ditinggalkan penduduknya. Namun sebagian memilih bertahan di rumah mereka dengan penetangan lilin, karena listrik belum menyala. Kerusakan terparah justru tampak di pusat pemerintahan kecamatan Lahusa, banyak rumah runtuh. Bahkan beberapa rumah kayupun tidak tahan terhadap gempa.
Rumah-rumah adat Suku Nias juga kelihatan tidak berdiri simetris. Namun di sepnjang jalan itu, laki-laki dan perempuan masih melakukan aktivitasnya bercocok tanam. Ini terlihat, beberapa ibu-ibu sedang menekuni sawah mereka yang mulai menggunung. Adapun kamum laki-lakinya membawa cangkul.
Istiqomatul Hayati





