|
Nasional
Bukan Bakar Lumbungnya, Tapi Kejar Tikusnya,
Selasa, 12 April 2005 | 21:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Peran Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga yang mandiri harus dibedakan dengan tindakan anggota-anggotanya. "Bukan bakar lumbungnya, tapi kejar tikusnya,"kata Direktur Eksekutif Pusat Reformasi Pemilu (CETRO), Hadar Navis Gumay.
Melihat perkembangan kasus Mulyana W Kusumah, Hadar khawatir peran KPU sebagai institusi akan dipinggirkan. Padahal, yang terjadi di KPU adalah akibat peraturan yang ada tidak cukup membentengi anggota-anggotanya melakukan kesalahan. "Jangan kita melihatnya secara tidak proporsional,"ujarnya.
Menurut Hadar, yang menjadi pokok masalah adalah tidak adanya pengaturan rinci dan ketat tentang pengadaan barang oleh KPU pada Pemilu 2004. "Hal yang sama juga terjadi pada Pilkada,"katanya. Hadar menyoroti logistik Pilkada Juni yang tanpa tender, yang membuka celah korupsi, kolusi dan nepotisme. "Harus ada satu pengaturan memastikan transparansi itu terjamin,"katanya.
Selain itu, Pilkada juga sangat rawan intervensi karena pengelolaan dana terpusat di tangan pemerintah. Sentralisasi ini, sangat tampak dan telah menjadi kesulitan bagi KPUD. "Manajemen penurunan dana seperti ini menjadi hambatan bagi mereka. Biasanya kan melalui KPU,"ujar Hadar.
Hadar mendorong pemeriksaan untuk menuntaskan dugaan korupsi di KPU. "Asal, pisahkan dengan peran KPU sebagai lembaga,"katanya. CETRO, tetap yakin dengan pendekatan institusional untuk membangun demokrasi. Maka, keberadaan sebuah lembaga KPU yang independen harus terus didorong.
Ibnu Rusydi
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|