Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Dituduh Terlibat PKI, Adum Sadeli Dipecat Dari Garuda
Kamis, 14 April 2005 | 10:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pada 1965 ketika peristiwa G-30S/PKI meletus, jabatan Adum Sadeli adalah montir kepala di maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia.

Namun, tak lama setelah peristiwa itu, ia dirumahkan dengan tuduhan terlibat gerakan tersebut. "Saya bekerja sejak Garuda belum punya pesawat," kata Adum kemarin.

Setelah kehilangan pekerjaan, Adum mengaku ketiga anaknya tidak bisa sekolah. Hingga tamat SD sekalipun. "Sejak saya dirumahkan, saya bekerja apa saja yang bisa menghidupi keluarga saya," kata Adum yang didampingi cucunya, Ningsih.

Perjuangannya menuntut keadilan kerap menemui jalan buntu. Pernah ia mencoba mendatangi kantor Garuda, namun petugas di sana hanya memintanya menunggu. “Terus diabaikan begitu saja,” cetus Ningsih, cucu Adum yang mendampinginya.

Kini di usianya yang renta, 70 tahun, Adum menuntut keadilan. Sampai saat ini ia tidak menyadari kesalahan substansial apa yang telah lakukannya pada 1965. Karena itu dia bersama-sama teman senasibnya mengajukan gugatan class action mantan tapol/napol yang dicap terlibat G-30S/PKI terhadap lima presiden RI di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

"Kami mau dipulihkan nama baiknya dari tuduhan sebagai keluarga bekas anggota PKI. Kakek tidak terbukti terlibat PKI, kenapa diperlakukan seperti ini?" ujar Ningsih terbata-bata.

Hakm Cicut Sutiarso menunda sidang tersebut. Sebab, hanya mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang hadir dari lima mantan presiden dan presiden yang digugat. Budayawan Pramoedya Ananta Toer turut hadir di persidangan tersebu. Anton Aprianto

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Pprotes anti presiden Abdurrahman Wahid/ Gus Dur oleh Badan Eksekutif Mahasiswa/ BEM se Indonesia dengan poster bertuliskan Gus Dur harus digusur kalo tidak negara pasti hancur di depan Istana Negara, Jakarta, Senin, 12 Maret 2001.  Foto: TEMPO/ Bernard Pendukung presiden Abdurrahman Wahid/ Gus Dur menusukkan besi ke mulutnya saat protes menolak Sidang Istimewa/ SI di Monas, Jakarta, 30 Mei 2001 [Koran TEMPO/ Josua Alessandro; K1A/423/2001; 20010616].
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Wahid – Muhaimin Didukung PKB Sumatera
Pemecatan Alwi Shihab dan Syaifullah Dibatalkan
DPW PKB Yogyakarta Adakan Silaturahmi Pra Muktamar
Soal PKI Gus Dur Somasi Balik LBH Jakarta
Gus Dur Tampung TKI Illegal
Wapres : Kebijakan Naik Juga Diambil Dua Presiden Sebelumnya
Hasyim Sambut Ajakan Islah dari Gus Dur
PKB Jateng Tetap Menjagokan Gus Dur
Kondisi Gus Dur Sehat Walafiat
Alwi Usulkan Gus Dur Jadi Penasehat Saja
> selengkapnya...


Referensi

Inpres RI No. 4 Tahun 2000 Tentang Penertiban Rekening Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen

Website

NU Online


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Petani Nganjuk Temukan Benda Purbakala di Ladang
Kehilangan Hak Pilih, Ratusan Warga Wangaya Kelod Protes TPS
HP Luncurkan Tinta dan Toner Baru
Masak Pakai Sampah
Antre Minyak

<< April,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data