Pengamat: Konferensi Asia Afrika Ajang Romantisme
Selasa, 19 April 2005 | 16:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Riza Sihbudi mengatakan, Konferensi Asia Afrika yang akan diselenggarakan 21-24 April di Jakarta akan didominasi semangat romantisme. “Tak banyak yang bisa diharapkan dari (pertemuan) sekarang,” katanya di Jakarta, Selasa (19/4).
Tapi, ia berharap, romantisme masa lalu itu hilang seiring kerjasama yang dititikberatkan pada ekonomi dilembagakan. Rencananya, kerjasama akan dibakukan secara berkala, misalnya, tiap empat tahun tingkat kepala negara dan dua tahun untuk menteri luar negeri. “Namun memang belum ada visi yang nyata untuk pertemuan kali ini.”
Konferensi Asia Afrika pertama digelar di Bandung, Jawa Barat, pada 1955. Kala itu para pemimpin besar ekdua benua itu hadir, misalnya, Sukarno (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), dan Gamal Abdul Nasser (Mesir).
Untuk menghindari agar para peserta konferensi tak larut dalam romantisme, menurut Riza, tiap negara peserta harus membawa agenda yang jelas, antara lain mengenai kerjasama ekonomi. Kerja sama ekonomi diyakini bisa mengurangi tensi konflik politik antarnegara di benua Asia dan Afrika.
Mengenai kekompakan negara-negara peserta, ia menilai, memang perlu waktu apalagi Asia dianggap kawasan yang rawan konflik. Tapi yang mesti disadari adalah, negara berkembang bukan “sapi perahan” negara maju.
Yophiandi





