Pemukulan Versi Theo F. Toemion
Rabu, 27 April 2005 | 19:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Theo F. Toemion memukul pelatih basket anaknya di Jakarta International School, Ahad (17/4) lalu. Mengapa mantan politikus PDI Perjuangan ini melakukannya?
Ia menjelaskan kronologi kejadian itu kepada pihak sekolah dan Kedutaan Amerika Serikat di Indonesia, melalui surat tertanggal 24 April 2005. Surat itu lalu dikirimkan melalui faksimile oleh stafnya di BKPM kepada redaksi Tempo, Rabu (27/4). Theo kini disebutkan sedang berada di Denmark.
Berikut penjelasannya.
Pada Ahad itu, JIS sedang menggelar pertandingan basket antarsiswa. Theo menulis, ketika itu tim putra bungsunya, Daniel, 7 tahun, sedang unggul atas lawannya. Tiba-tiba, seorang perempuan, Michelle Mabee, warga negara Amerika, mendatangi sang pelatih. Mabee, kata Theo, meminta pelatih mengeluarkan Daniel dari lapangan.
Menurut Theo, sang pelatih menolak permintaan itu. Alasannya, orang tua Daniel (Theo) menonton pertandingan. Pelatih, tulis Theo, juga mengatakan bahwa Daniel adalah bagian dari tim sehingga harus diberi kesempatan untuk bermain. Pelatih, masih menurut Theo, juga menganggap bahwa Mabee lah yang meminta Daniel bergabung di tim kelas 2 meski sebenarnya ia masih kelas 1.
Belakangan, Theo mengaku mengetahui bahwa Mabee ternyata koordinator pertandingan. Anaknya adalah anggota tim lawan Daniel. Adapun suami Mabee, menurut Theo, adalah pelatih tim itu.
Theo menganggap, Mabee tidak berhak untuk ikut campur. Apalagi, kata dia, meminta anaknya dikeluarkan dari pertandingan. "Anak saya telah diperlakukan curang dan diskriminatif," kata Theo.
Sang pelatih, menurut Theo, mengaku diminta keluar oleh Mabee karena tak menuruti perintah. Mabee bahkan disebutkan sempat berkata kepada pelatih, "Timmu akan menang jika Daniel dikeluarkan dari pertandingan."
"Istri dan anak saya saat mendengarkan pernyataan itu langsung bereaksi. Saya lalu mendatangi meja pelatih dan bertanya apa yang salah dengan anak saya," tulis Theo.
"Saat itu Michelle pun menjawab: Tidak ada yang salah dan tolong matikan kamera Anda," Theo melanjutkan. Ia saat itu memang sedang merekam pertandingan melalui hancycam-nya. Theo mengaku bersikeras meminta jawaban dan ditolak oleh Mabee.
"Saya (Theo) tidak dapat menahan diri melihat istri saya terguncang atas ketidakadilan ini. Saya meminta keadilan dan jawabannya justru reaksi negatif," tulisTheo.
Menurut Theo, Mabee tiba-tiba berteriak sambil mengacungkan telunjuk di depan mukanya. "Rules are rules (peraturan adalah peraturan)," demikian teriak Mabee.
Theo menyimpulkan bahwa ada perlakuan diskriminatif kepada anaknya. "Jika saya tidak memberikan reaksi secara langsung, saya yakin akan ada banyak korban dari ketidakadilan ini di masa mendatang," tulis Theo.
Situasi menjadi makin panas ketika beberapa penjaga menahan Theo. Atas tindakan ini, Theo mengaku sangat marah. "Saya berpendapat bahwa alasan dia (Mabee) tidak mau berbicara dengan saya adalah karena saya orang Indonesia dari kelas bawah," kata Theo.
Theo mengaku saat itu juga "rasa kebangsaannya sebagai orang Indonesia bergelora". Ia mengaku siap untuk melawan semua orang yang mendatanginya. "Dalam tradisi kami, membela diri adalah perlu. Saya menjadi semakin agresif," tulis Theo.
Menurut versi Kedutaan Besar Amerika Serikat, 6-8 orang menjadi korban pemukulan Theo dan para pegawainya setelah itu. Rengga
Baca juga Koran Tempo Edisi 28 April 2005





