|
Operasi Pemberantasan Korupsi Akan Dimulai dari Istana
Kamis, 28 April 2005 | 13:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menggelar operasi pemberantasan korupsi berskala besar. Menurut Presiden, operasi akan dimulai dari Kantor Presiden dan Wakil Presiden dengan fokus utama mengetahui apakah ada kehilangan aset negara.
"Saya ingin bersih dari rumah sendiri," kata Presiden seusai rapat koordinasi anggota Kabinet Indonesia Bersatu dan sejumlah pemimpin lembaga negara di Kantor Presiden, Kamis (28/4).
Presiden mengatakan, pemeriksaan dilakukan degan audit Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet, termasuk seluruh yayasan yang dikelolanya. Ia mengaku tidak khawatir dengan adanya resistensi dari orang-orang di dalam lingkungan kepresidenan atas operasi ini.
Presiden mengungkapkan akan mengerahkan Kejaksaan Agung dan Polri dalam operasi ini. Jika perlu, kata dia, sejumlah lembaga negara akan dilibatkan, seperti Badan Pemeriksa Keuangan dan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Dalam jumpa pers ini, presiden didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Wakil Jaksa Agung Basri Arief, Ketua BPK Anwar Nasution, Menko Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS, Ketua KPK Taufiqurrahman Ruki, Ketua Ombudsman dan Ketua Pusat Pengawasan dan Analisa Transaksi Keuangan Yunus Hussein.
Kepala Polri Jenderal Dai Bachtiar, Menteri Keuangan Jusuf Anwar, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sri Mulyani, Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Jalil, dan Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie juga hadir dalam konferensi pers.
Presiden mengungkapkan, rapat menghasilkan delapan langkah pemberatasan korupsi. Di antaranya, pemberantasan kerugian negara akibat pengadaan barang, pencegahan penyimpangan dalam tender proyek infrastruktur di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam selama lima tahun ke depan.
Langkah berikutnya, pemberantasan korupsi dalam pelaksanaan tender proyek infrastruktur selama lima tahun ke depan, penyimpangan di departemen pemerintahan dan BUMN serta organisasi swasta dan independen. Ia mencontohkan kasus Bank Mandiri yang tengah diperiksa saat ini karena ulah elemen di dalamnya. "Tidak ada persoalan dengan perbankannya," kata dia. Budi Riza
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid alias Cak Nur (kanan) didampingi calon presiden dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY (kiri), dalam konferensi pers seusai melakukan pertemuan empat mata di kediaman Cak Nur di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis, 6 Mei 2004. [TEMPO/Usman Iskandar; K21A/204/2004; 20040507].](/hg/photostock/2005/02/15/s_K21A20603_high_thumb.jpg) |
![Panglima Angkatan Bersenjata Singapura, Mayor General Ng Yat Chung (kiri) bersalaman dengan Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan kunjungan kerja di Kantor Menko Polkam, Jakarta, 17 Juni 2003. [TEMPO/ Bagus Indahono; K15A/407/2003; 20030625].](/hg/photostock/2005/02/15/s_K15A40706_high_thumb.jpg) |
| Nurcholish Madjid dan Susilo Bambang Yudhoyono
|
|
| Susilo Bambang Yudhoyono dan Ng Yat Chung
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|