Menteri Kesehatan : Busung Lapar di NTB, Aneh

Sabtu, 28 Mei 2005 | 19:09 WIB

TEMPO Interaktif, Mataram:Menteri Kesehatan dr Siti Fadilah Supari menyatakan kasus busung lapar yang terjadi di NTB cukup aneh. Karena, Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tergolong daerah yang subur dan tidak masuk dalam kategori daerah miskin.

Sesuai data nasional, propinsi ini mengalami surplus
produksi padi. Sehingga, seharusnya kasus busung lapar
tidak terjadi di propinsi ini. "Saya mengatakan ini
kasus sangat aneh dan unik,"kata Menteri Kesehatan
saat mengunjungi pasien busung lapar di Rumah Sakit
Mataram, Sabtu (28/5) siang.

Harusnya, menurut Menteri Siti Fadilah, kasus busung lapar tidak terjadi di NTB ini. Daerahnya yang subur, masyarakatnya juga tergolong mapan. "Ini perlu
didiskusikan, apa penyebabnya?"kata Menteri yang
didampingi Gubernur NTB Lalu Serinata.

Menurut Siti Fadilah, munculnya kasus busung lapar
dengan jumlah kasus terus bertambah, bisa jadi karena
sistem pemantauan kasusnya terhambat akibat proses
desentralisasi 3-4 tahun ini. Akibatnya kasus gizi
buruk yang terjadi di Propinsi NTB berkembang
terus jumlahnya. "Karena sistem pemantauannya
terhambat,"ujarnya.

Menteri Siti berharap, setelah NTB dinyatakan status KejadianLuar Biasa (KLB) busung lapar, maka informasi atas kasus seperti ini bisa lebih baik dan terlaporkan dengan baik. Karena, persoalan kasus gizi buruk ini
juga terjadi di beberapa tempat. Selain Propinsi NTB
juga daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga mengalami kasus serupa.

Menteri kesehatan berpesan kepada Gubernur NTB, anggaran dari dekonsentrasi (APBN) dapat digunakan untuk perbaikan gizi masyarakat. Dengan demikian, asupan makanan tambahan terutama untuk balita bisa lebih baik.

Data di Sub Dinas Pelayanan Kesehatan dan Gizi Dinas
Kesehatan NTB menyebutkan, jumlah kunjungan balita
hanya 60 persen dari 500 ribu total jumlah balita di
NTB. Artinya, ada sebanyak 200 balita atau sekitar 40
persen balita di NTB ini, tidak mengunjungi ke
Posyandu.

Jumlah ini jauh dari target yaitu 80 persen
yang dicanangkan oleh Dinas Kesehatan, Pemerintah propinsi NTB dan BKKBN. Diduga, para penderita gizi buruk dan di dalamnya pasien busung papar masuk di dalamnya. "Kalau kunjungan Posyandu mencapai angka 80 persen, itu sudah bagus,"kata Kepala Sub Dinas Pelayanan Masyarakat dan Gizi Dinkes NTB, dokter Marie Sanad.

Kasus gizi buruk yang terjadi di Pulau Lombok terus meningkat. Hingga Sabtu (28/5) ini, jumlah kasus gizi buruk bertambah menjadi 359 kasus dari data sebelumnya yaitu 338 pada (26/5) lalu.

Dari jumlah itu, di antaranya 8 anak meninggal dunia.
Jumlah kasus busung lapar di NTB tergolong cukup
tinggi, yaitu sebanyak 0,7 persen atau 359 dari 500
ribu balita yang ada di NTB. Sedangkan data nasional
kasus busung lapar tercatat sebanyak 8 persen.

Sujatmiko dan Supriyanto Khafid






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: