|
Wakil Presiden Minta Maaf Soal Kelangkaan BBM
Jum'at, 08 Juli 2005 | 13:44 WIB
TEMPO Interaktif, Malang:Kelangkaan bahan bakar minyak bukan kesalahan siapa pun. Kelangkaan BBM merupakan efek dari masalah minyak dunia. Kendati begitu, sudah sewajarnya pemerintah meminta maaf atas terjadinya kelangkaan BBM.
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengungkapkan hal itu saat memberi sambutan tanpa teks untuk menutup perhelatan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-45 di Universitas Muhammadiyah Malang Dome, Jumat (8/7).
“Saya minta maaf atas kesulitan BBM yang pada hari-hari ini menjadi pembicaraan umum. Tapi kesalahan tersebut bukanlah kesalahan siapa-siapa di negeri ini, tetapi masalah dunia kita dewasa ini,” tutur Kalla.
Saat ini, papar dia, bangsa yang maju tiba-tiba membutuhkan BBM dalam jumlah besar. Sebaliknya, ada bangsa yang kondisi internalnya tengah kacau, seperti Irak, sehingga tidak bisa memproduksi BBM yang dibutuhkan dunia. Sehingga terjadilah kebutuhan lebih banyak daripada persediaan. “Maka naiklah harga itu menjadi US$ 60 per barrel,” katanya.
Menurut Jusuf Kalla, Indonesia tidak bisa menghindari masalah global tersebut. Jika rakyat ingin menikmati hidup dengan harga yang murah, artinya negara dan pemerintah harus memberi subsidi untuk semua kebutuhan tersebut hingga Rp150 triliun di tahun ini.
Subsidi sebesar itu setara dengan 27 persen dari total anggaran biaya pemerintah. Dengan begitu, Indonesia menjadi negara sosialis terbesar di dunia.
“Karena itulah, kami harap pengertian, bahwa pemerintah dan kita semua harus menanggung itu secara bersama-sama dengan penghematan energi, dan juga menghapuskan subsidi yang tidak perlu,” ujar Kalla.
Pidato Wakil Presiden ditanggapi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi. Penghematan BBM memang sangat diperlukan dan harus. Ia menegaskan masalah BBM sangat kompleks sehingga pemerintah saat ini berada dalam posisi yang sangat dilematis.
“Tapi,” Hasyim menukas, “Jika harga BBM dinaikkan, saya rasa itu langkah yang kurang tepat mengingat kondisi perekonomian kita saat ini, di mana daya beli rakyat kian melemah. Jalan terbaik ya itu tadi, penghematan energi.” Abdi Purmono
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|