Presiden Mengaku Kenaikan Harga BBM Adalah Keputusan Pahit
Jum'at, 30 September 2005 | 21:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Yudhoyono mengatakan, langkah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak merupakan keputusan pahit. Namun, ia menyatakan, langkah ini diambil karena harga minyak mentah dunia terus naik dan membebani karena jumlah subsidinya meningkat drastis.
"Negara mengeluarkan banyak anggaran untuk subsidi BBM," kata Presiden dalam penanangan bulan solidaritas nasional di Lapangan Monas, Jumat (30/9) sore.
Jika harga BBM tidak dinaikkan, menurut Presiden, akan berakibat buruk bagi APBN. Ia membenarkan langkah ini akan menambah beban masyarakat banyak.
Karena itu, kata Presiden, pemerintah menerapkan kebijakan pemberian subdisi langsung tunai sebesar Rp 100 ribu per bulan per kepala keluarga. Tujuannya, untuk meringankan beban masyarakat pasca kenaikan harga BBM.
Pemerintah, dia menambahkan, juga menggalang solidaritras sesama masyarakat lewat pelaksanan pasar murah. Pembukaannya dilakukan di lapangan Monas. Menurutnya, barang yang dijual merupakan hasil sumbangan para pengusaha, pejabat, hingga masyarakat biasa.
Acara ini juga dihadiri Wapres berikut sejumah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu seperti Mendagri, Menko Perekonomian, Menneg BUMN, Menteri Perhubungan, Menteri Perdagangan, Menko Polhukam, dan Kapolri.
Secara terpisah, Gubernur Sutiyoso mengatakan, program ini akan digulirkan hingga akhir tahun. Setelah ini pasar murah akan dilakukan oleh wali kota dan digelar tiap dua pekan. Barang yang dijual dipatok pada harga Rp 5.000 seperti beras, kemeja, mukena, makanan kaleng, dan sembako. Budi Riza
Komentar Anda
- naik lg naik lg
ga apa-apa dewh harga bbm naik asal playanannya juga di tingkatin...... sama pkirin juga y rakyat miskin yang kurang mampu ksian mreka ga mau kan gra-gara bbm naik tingkat kriminalitas juga naik
Pengirim : gie di tankrank





