Bambang: Penghargaan ini Milik Wartawan Indonesia

Kamis, 10 November 2005 | 20:58 WIB

TEMPO Interaktif, Washington: Suatu hari, tak berapa lama setelah 200-an preman yang mengaku sebagai pendukung taipan Tomy Winata menyerbu kantor majalah Tempo, Pemimpin Redaksi Bambang Harymurti menuturkan sebuah wejangan dari ibunya. "Jangan takut, hadapi saja, ini semua akan berakhir dengan sesuatu yang baik," katanya.

"Sesuatu yang baik" itu ternyata terwujud di Washington D.C, Amerika Serikat, Rabu (9/11) malam waktu setempat atau Kamis Wib. Sebuah organisasi pembela kebebasan pers yang berbasis di Amerika, International Center for Journalists (ICFJ), menganugerahi Bambang "Knight International Press Fellowship Awards Journalism Award."

Penghargaan itu diberikan kepada para jurnalis "atas pencapaian mereka menghadapi ancaman politik dan ekonomi." Buat Bambang, ancaman dimaksud adalah vonis hakim yang menghukumnya satu tahun penjara.

"Harymurti," demikian dinyatakan rilis ICFJ, "telah dengan gigih berjuang melawan dakwaan pencemaran nama baik yang dituduhkan seorang taipan."

Selaku pemimpin redaksi Tempo, Bambang didakwa telah mengobarkan rusuh dan menebarkan dusta dalam pemberitaan tentang Tomy Winata. Di pengadilan tinggi, putusan itu lantas dianulir, Bambang dinyatakan tak bersalah, tapi jaksa masih dengan gigihnya mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

"Penghargaan ini adalah milik jurnalisme dan wartawan Indonesia, sebuah peringatan untuk mencegah mereka yang senantiasa mencoba membungkam suara kami," demikian dinyatakan Bambang dalam pidatonya.

Selain untuk Bambang, penghargaan tahun ini juga diberikan kepada tiga wartawan senior lainnya. Salah satunya adalah Mahjoub Mohamed Salih, pemimpin redaksi sebuah harian di Sudan yang bolak-balik masuk bui karena suara kritisnya terhadap penguasa.

Al-Ayam, koran yang didirikan Salih di tahun 1958, juga berkali-kali dibredel pemerintahnya. Koran itu merupakan media massa yang pertama kali melaporkan tragedi pembantaian massal di negaranya, yang lantas bergema ke seantero dunia sampai hari ini.

Dua lainnya adalah Marcelo Beraba, wartawan dan pendiri ombudsman pers di Brasil; serta Diana Kachalova, pemimpin redaksi Moy Rayon, koran untuk rakyat jelata di St. Petersburg, yang dinilai gigih menegakkan kebebasan pers yang baru saja tumbuh di Rusia.

ICFJ didirikan pada 1984 dengan misi membantu meningkatkan mutu jurnalistik dan manajemen media, khususnya di negara-negara yang tak punya trandisi panjang kebebasan pers.

Rilis ICFJ menyatakan sejauh ini mereka telah melatih 20 ribu wartawan dan manajer media dari seantero dunia, termasuk di Mesir, Cina, juga di Aceh menyusul prahara tsunami.

Berbeda dengan tiga penerima lainnya, khusus untuk Bambang penghargaan diberikan oleh Paul Wolfowitz, Presiden Bank Dunia dan mantan Deputi Menteri Pertahanan Amerika. Kepada para hadirin, mantan Duta Besar Amerika untuk Indonesia ini memperkenalkan Bambang sebagai "seorang kawan lama" yang dikenalnya sejak 20 tahun lalu saat ia pertama kali bertugas sebagai diplomat.

Menutup sambutannya, Wolfowitz berkata, "Saya akan sangat bergembira ikut merayakan saat-saat ketika Mahkamah Agung nanti sepenuhnya membebaskan Bambang." Karaniya Dharmasaputra






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: