bloon karena kalau dalam masalah berteman dia gak bisa menyaring," katanya.">
close

Keluarga Ingin Menguburkan Jenazah Misno

Minggu, 13 November 2005 | 02:08 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung: Dua tersangka pelaku bom bunuh diri di Bali, 1 Oktober 2005, Salik Firdaus dan Misno, pernah tinggal di Cikijing, Majalengka. "Dia membantu kakaknya berjualan bubur di pasar," kata Parisno, 30 tahun, kakak kandung Misno di Bandung, Sabtu (12/11).

Keterangan itu disampaikan saat keluarga Misno menggelar konferensi pers diri di Hotel Endah Parahyangan, Cimahi, Jawa Barat, Sabtu (12/11). Sedianya, keluarga Salik Firdaus hadir tapi, menurut kuasa hukum dua keluarga itu, Emi Klanawidjaja, mereka masih syok.

Hadir ayah Misno, Madsukarto, 58 tahun, dan ibunya, Musbariah, 55 tahun, serta Parisno, satu dari tujuh saudara Misno. Saat menjawab pertanyaan, Musbariah terus terisak.

Menurut Parisno, Misno merantau setelah meninggalkan sekolahnya yang hanya mencapai kelas 1 di SMP Yabaki, Cilacap, pada 1996. Ia bekerja serabutan dan pernah tinggal di Jakarta, Bandung, dan Majalengka. Parisno menyatakan, Misno lama merantau di Jakarta sebagai kuli bangunan.

Madsukarto mengatakan, pada lebaran 2004, Misno sempat pulang ke Cilacap dan sempat membantunya bertani. Pada 2005, Misno memutuskan kembali ke Jakarta. Tapi selama dua bulan dia belum mendapat pekerjaan.

Setelah itu Misno pulang, tapi tidak ke Cilacap melainkan ke Cikijing, Kabupaten Majalengka, dan tinggal tidak jauh dari rumah kakaknya sekitar 6 bulan.

Aktivitas Misno saat itu membantu kakaknya yang tertua berdagang bubur di pasar. Namun, menurut Parisno, selain membantu berjualan bubur, kakaknya tidak mengetahui aktivitas Misno karena mereka tinggal terpisah.

Parisno enggan menyebutkan identitas kakaknya dengan alasan keamanan keluarga. Namun ia menyebutkan inisial saudaranya yang tertua, yakni NG. Sepengetahuan Parisno, adiknya terhitung rajin membantu pekerjaan kakaknya berjualan bubur sejak pukul tiga dini hari hingga pukul 5 sore setiap hari.

Madsukarto mengaku, pertemuan terakhir dengan anaknya terjadi pada 14 Agustus 2005. Saat itu, Madsukarto datang mengantar makanan ke acara hajatan kakak iparnya di Majalengka. Misno sempat pamit. "Pak, saya mau kerja ke Batam," ujar Sukarto menirukan Misno.

Madsukarto mengatakan, Misno sempat berjanji untuk memberi kabar melalui surat jika sudah bekerja sebulan di Batam. Tapi janji itu tidak pernah ditepati Misno. Lebaran 2005 kemarin pun Misno tidak pulang, sampai Madsukarto mendengar kabar tentang keterlibatan anaknya itu dalam bom Bali II.

Hingga saat ini, Madsukarto masih belum yakin jika anaknya merupakan salah satu pelaku bom bunuh diri di Bali 1 Oktober lalu. Ia menuturkan, sempat melihat foto anaknya di dalam selebaran yang disebarkan polisi tapi tidak mengenalinya. Ia baru diyakinkan oleh anaknya yang mengatakan, Misno diduga kuat salah satu pelaku bom Bali II. "Ketika dikasih tahu, ibunya langsung pingsan," katanya.

Menurut sang ayah, Misno bukan anak yang menonjol di keluarga. Anaknya itu, tambahnya, tidak pernah menunjukkan perilaku yang berbeda.

Sang kakak, Parisno, mengingat Misno sebagai anak yang polos. "Dia orangnya polos, malah bisa dikateogriin anak yang bloon karena kalau dalam masalah berteman dia gak bisa menyaring," katanya.

Keluarga Misno berharap, jenazahnya bisa segera dikirim ke rumahnya di Cilacap. "Saya ingin jenazah anak saya diproses di sini (Bandung), lalu saya berangkat ke Cilacap bersama-sama jenazah anak saya," ujar Madsukarto. Ahmad Fikri/Rana Akbari Fitriawan

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan