Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Gutteres Anggap Xanana Harus Ikut Bertanggung Jawab
Jum'at, 20 Januari 2006 | 13:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Eurico Gutteres, mantan milisi prointegrasi Timor Timur, mengaku pernah membunuh dalam konflik politik di wilayah itu. Namun, ia juga menuduh, Portugis melakukan pembunuhan serupa sebelum wilayah itu bergabung ke Indonesia.

Gutteres mengaku mendukung laporan Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi (CRTR) bentukan pemerintah Timor Leste dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam laporan yang disampaikan Presiden Xanana Gusmao ke Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan itu, Indonesia dituduh bertanggung jawab atas pembunuhan 183.000 orang selama 1975-1999.

"Apakah angka 183.000 itu sudah termasuk pembantaian massal yang dilakukan Portugis pada 1959 dan Fretelin pada 1975 atau tidak?" kata Gutteres di Kupang, Jumat (20/1).

Menurutnya, Portugis pernah melakukan pembataian massal di Viqueque. Puluhan ribu warga sipil tak berdosa dibantai saat itu. Pada 1975, kata dia, Fretelin (organisasi Xanana) membantai lebih dari 60.000 warga saat perang saudara melanda daerah itu.

"Laporan amnesti PBB pada 1982 mengakui pembantaian yang dilakukan oleh Fretelin dan saat itu telah diumumkan secara terbuka. Publik mengetahui hal itu. Tetapi kemudian didiamkan," katanya.

Dia menambahkan, pembunuhan yang dilakukan TNI dan milisi dalam konflik selama 24 tahun merupakan konsekuensi dari perang. "Kami dituduh membunuh. Itu memang terjadi," ia menegaskan.

Menurut dia, adalah tidak adil jika hanya pemerintah Indonesia, TNI, dan milisi yang dituduh bersalah. Alasannya, konflik politik di Timor Timur merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Tuduhan pembunuhan 183.000 jiwa warga sipil, kata Gutteres, adalah tanggung jawab kolektif. "Bukan hanya Indonesia atau TNI dan milisi, tetapi juga Xanana, Timor Leste, Portugis, dan PBB harus ikut bertanggung jawab," ia menambahkan. jems de fortuna


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Laporan Pembunuhan Orang Timor Juga Disampaikan ke Yudhoyono
Indonesia Diminta Bersikap Keras kepada Timor Leste
Menko Polhukam Minta Pengamanan di Perbatasan Diperketat
TNI Bantah Bunuh Ratusan Ribu Orang Timor
Laporan ke PBB: Indonesia Bunuh 180.000 Orang Timor
Xanana Yakin Insiden Penembakan WNI Tak Pengaruhi Hubungan Diplomatik
Indonesia-Timor Leste Investigasi Penembakan Tiga WNI
Warga Eks Tim-tim Lempari Mobil Bupati
Kodam Udayana Perketat Perbatasan dengan Timor Leste
DPR Protes Penembakan Tiga WNI Oleh Polisi Timor Leste
> selengkapnya...


Website

U.S. Department of State
United Nations (PBB)
Departemen Luar Negeri


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [4]


Berita Terakhir

Rencana Penyemayaman Jenazah Sumiarsih Batal
Polisi Sisir Kamar Mayat RSU Soetomo
Ryan dan Ariel Pernah Satu Tempat Kos
Menkum HAM Perbanyak Pemberian Remisi Narapidana
Tentara Siap Amankan Perbatasan RI – Timor Leste

<< January,2006>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data