Indonesia Minta Barat Tak Cepat Bawa Isu Nuklir Iran ke DK PBB
Selasa, 31 Januari 2006 | 17:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pemerintah RI meminta agar Iran bekerjasama erat dan melakukan pembicaraan serta negosiasi dengan Badan Tenaga Atom Internasional, dan memenuhi aturan-aturan internasional soal pengembangan tenaga nuklir.
Pemerintah, menurut Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, juga menganjurkan kepada Iran untuk mempertimbangkan usulan Rusia agar Iran melakukan pengayaan uranium di Rusia.
"Untuk kemudian dikirim dan dimanfaatkan pada instalasi-instalasi nuklir di Iran," kata dia seusai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima duta besar negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB, di kantor presiden, Selasa (31/1).
Presiden Yudhoyono memanggil para duta besar ini untuk menjelaskan posisi Indonesia menyikapi masalah nuklir Iran ini. Mereka yang hadir antara lain Duta Besar Prancis untuk RI, Renauld Vignal, Dubes Jerman Joachim Droudre Grouger, Dubes Inggris Charles Humfrey dan Dubes Austria Bernard Zimburg, Dubes Rusia untuk RI, George Savuica, Dubes Amerika Serikat Lynd B.Pascoe, dan Dubes RRC untuk RI, Lan Lijun.
Pemerintah RI, kata Wirajuda, mendorong para pihak yang terkait masalah ini, untuk memaksimalkan upaya perundingan masalah nuklir Iran ini, khususnya kepada Iran dan tiga negara anggota Uni Eropa, yakni Inggris, Prancis dan Jerman.
Wirajuda menambahkan, pada hari Kamis, 2 Februari mendatang, dewan gubernur Badan Tenaga Atom Internasional yang beranggotakan 35 negara termasuk Indonesia, akan mengadakan sidang luar biasa untuk membahas masalah nuklir Iran ini.
Pemerintah RI tidak ingin, kata Wirajuda, negara-negara barat tergesa-gesa menyimpulkan bahwa proses perundingan tentang masalah ini sudah buntu kemudian menyerahkannya kepada dewan Keamanan (DK) PBB. "Kita menghimbau untuk mempertimbangkan sekali lagi agar memberi ruang gerak pada proses diplomasi dan negosiasi, sehingga solusi damai dapat tercapai," katanya.
Langkah menyikapi masalah nuklir Iran ini dilakukan Pemerintah RI, karena jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan, akan dapat menimbulkan implikasi bagi Indonesia. Implikasi itu antara lain melonjaknya harga minyak dunia. Wirajuda mencontohkan, berkembangnya masalah ini pada pekan lalu mengakibatkan melonjaknya harga minyak dunia menjadi 64 US Dolar per-barrelnya.
"Dan kalangan bisnis internasional memperkirakan, bila masalah nuklir Iran ini tidak dapat diselesaikan secara damai, maka bukan tidak mungkin harga minyak dunia akan melonjak melampaui harga minyak tertinggi pada tahun lalu 72 US Dollar, mencapai 100 US Dolar per-barrel," kata Wirajuda. Dimas Adityo





