Kita Mewakili Dunia Islam
Jum'at, 07 April 2006 | 19:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Baik kunjungan ke Indonesia oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair, yang belum lama berlalu, maupun oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice sebelumnya, dua-duanya punya acara ikutan yang kelihatan tidak penting tapi menarik. Yaitu kontak dengan kalangan formal Islam. PM Blair menjenguk Pesantren Modern Darun Najah di Ulujami, Jakarta, sementara Menteri Rice mendatangi sebuah madrasah di pusat Ibu Kota. Tony Blair malahan beramah-ramahan dengan para tokoh Islam, termasuk pimpinan NU dan Muhammadiyah. Setidak-tidaknya ada tiga pikiran yang bisa kita simpulkan.
Pertama, ada kesan kebutuhan dunia Barat untuk berbaik-baik dengan Islam. Invasi AS dan Inggris ke Irak, sesudah ke Afghanistan dulu, kebijakan AS, khususnya, dalam konflik Israel-Palestina, dan terakhir peristiwa karikatur Nabi Muhammad, jelas sudah memperlebar jarak. Dan itu tentu harus dijembatani kalau diinginkan tujuan-tujuan politik maupun ekonomi mereka tercapai.
Kedua, adalah penting kenyataan tentang Indonesia sebagai negeri Islam terbesar di dunia. Itu ciri kita yang selalu dilihat orang luar. Dan itu tak usah membikin kita kikuk. Beberapa turis asing di Bali, yang diwawancarai salah satu stasiun televisi kita, menyatakan bahwa kalaupun pemerintah kita menetapkan aturan-aturan berpakaian yang lebih tertutup, di luar daerah pantai, itu pantas saja, dan mereka akan patuh. Dengan kata lain, kita dianggap layak punya kepribadian sendiri.
Tetapi, dan ini yang ketiga, kepribadian itu haruslah dari jenis moderat, dan yang mempertimbangkan asas multikultural. Menjadi muslim moderat bukanlah hal yang hanya "menyenangkan orang Barat". Islam agama yang damai, dan kita, berkat Tuhan, sudah berhasil membangun negara yang lebih demokratis dan aman dibanding negeri Islam mana pun di Timur Tengah. Masalahnya tinggal bisakah kita tetap menjaga moderasi itu -- dengan menolak semua kecenderungan ekstrem. Bila demikian, dengan penduduk yang juga lebih besar dibanding penduduk semua negara Arab digabung, sangat layak, memang, kalau negeri.***





