close

Lagu Darah Juang Iringi Kepergian Pramoedya

Minggu, 30 April 2006 | 16:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Lagu Darah Juang mengiringi prosesi pemakaman Pramoedya Ananta Toer. Lagu itu dinyanyikan oleh para pengagum Sang Pujangga yang terkenal dengan karya Tetralogi Bumi Manusia.

Ambulan yang membawa jenazah Pramoedya tiba di TPU Karet Bivak pukul 14.30 WIB. Setelah itu ustadz dari Yayasan Bunga Kamboja yang bertugas di TPU tersebut membacakan doa, kemudian peti jenazah diturunkan. Tepat pada pukul 15.00 WIB, pusara mulai ditimbun tanah dan di atasnya ditebari bunga mawar. Koesalah Soebagyo Toer, adik Pram, memberikan kata-kata terakhir dengan suara lirih. Dia meminta doa untuk mengiringi kepergian Pramoedya. "Doakan semoga kepergiannya damai," ucap pria yang mengenakan baju coklat muda bermotif kotak-kotak yang dipadu dengan celana coklat.

Beberapa tokoh yang turut menghadiri pemakaman Pramoedya, di antaranya Goenawan Muhammad, Eka Budianta, Oei Hay Djoen (yang pernah ditahan bersama Pramoedya di Pulau Buru), Ratna Sarumpaet dan Sholahuddin Wahid.

Goenawan Muhammad menerima pesan pendek bahwa Pramoedya meninggal tadi malam saat berada di Surabaya. Namun, dia menerima kabar lagi yang mengatakan Pram belum meninggal. Dia mengaku mengenal karya Pramoedya sejak kecil. Beberapa karya Pram yang paling disukainya, Cerita dari Blora, Bukan Pasar Malam dan Perburuan. "Saya mengagumi sikapnya yang gagah berani," kata Goenawan usai acara pemakaman.

Mengenai hasil karya Pram yang terkesan belum dihargai pemerintah, Goenawan menanggapi, "pengarang dihargai bukan dari pemerintah, tapi dari pembacanya."

Nieke

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan