Warga Tak Hiraukan Status Awas Merapi
Sabtu, 13 Mei 2006 | 23:17 WIB
TEMPO Interaktif, Boyolali:Warga di lereng Merapi sisi sebelah utara yang masuk ke Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali tidak menghiraukan sedikitpun perubahan status Merapi yang sejak Sabtu (13/5) pukul 08.30 ditetapkan menjadi Awas Merapi. Berbeda dengan di tempat lain, sepanjang hari tak ada satupun warga di Desa Tlogolele yang hanya berjarak 4 kilometer dari puncak gunung yang beranjak dari tempat tinggalnya. Bupati Boyolali Sri Moeljanto pun turun langsung membujuk warganya agar menjauh dari Merapi. "Mungkin karena warga saya beranggapan arah lahar tidak akan ke utara tetapi ke tenggara atau selatan," kata Kepala Desa Tlogolele, Budi Harsono, Sabtu (13/5).
Menurut Budi, keengganan warganya mengungsi karena berdasarkan pemberitaan di media massa, khususnya televisi, BPPTK memperkirakan arah lahar panas maupun wedhus gembel kemungkinan besar ke arah Klaten atau Sleman. Selain itu, warga juga berkeyakinan, meski sudah bersatus Awas Merapi, gunung tersebut tidak akan meletus di waktu dekat. Di desa itu, terdapat sebanyak 1.300 warga yang beberapa waktu lalu sempat diungsikan ke Selo, Boyolali tetapi kemudian mereka memutuskan pulang kampung karena setelah hampir dua minggu mengungsi tidak ada tanda-tanda bahaya yang mengarah ke tempat tinggalnya. "Pak Bupati langsung meminta kepada warga agar warga paling tidak mau diungsikan ke
tempat pengungsian sementara yang dibuat di pinggiran desa," kata Budi.
Sepanjang hari Sabtu, para warga di Desa Tlogolele, Klakah, dan Jrakah yang merupakan tiga desa paling dekat dengan Merapi masih tetap melakukan aktivitas keseharian. Mereka juga pergi ke ladang yang berada di kaki gunung untuk mengurus tanaman sayuran mereka. Meski tidak terlalu banyak, beberapa warga juga masih mencari pasir di Kali Apu yang berhulu di Gunung Merapi. Menurut petugas Pos Merapi Jrakah, Selo,
Sugiyanto, dari pengamatan yang dilakukan secara visual memang untuk sementara ini, guguran lava pijar yang terjadi cenderung mengarah ke barat daya, selatan dan tenggara. "Sementara ini memang boleh dibilang sebelah utara aman tetapi harus tetap waspada karena kubah lava bukan tidak mungkin berubah posisinya," kata dia.
Imron Rosyid, Tempo





