Korban Gempa Tidur di Pinggir Jalan
Sabtu, 27 Mei 2006 | 22:49 WIB
TEMPO Interaktif, Klaten:Ribuan warga Klaten bagian selatan tiba-tiba menjadi "gelandangan" massal. Gempa bumi yang terjadi Sabtu (27/5) memaksa mereka tidur di bawah langit karena tak memiliki tempat tinggal lagi. Tenda daurat yang diharapkan datang juga belum ada hingga malam ini. Listrik yang alirannya terputus membuat suasana di sejumlah daerah di Klaten terasa mencekam. "Kami masih trauma kalau masuk ke dalam rumah atau gedung," kata Adi Suwarno, warga di Dusun Teluk, Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten.
Sejatinya di dusun itu, masih ada bangunan yang berdiri seperti masjid dan gedung sekolahan. Hanya saja, selain trauma, tetapi kekokohannya juga diragukan karena beberapa bagian terlihat retak-retak.
Mereka sebenarnya bermaksud mendirikan tenda di lapangan dekat sekolahan, tetapi karena tak ada yang memiliki tenda, mereka harus puas beristirahat di pinggir jalan dekat rumah mereka. Mereka juga kekurangan bahan makanan. "Sembari menjaga rumah, karena seluruh harta benda kami masih di antara reruntuhan dan kami takut ada yang berusaha menjarah,"
kata dia.
Warga pun berjaga-jaga di jalan masuk pintu desa
mereka. Orang yang tak dikenal akan diminta untuk
menunjukkan identitasnya. Sejumlah aparat kepolisian
juga melakukan patroli keliling ke desa-desa yang
telah rata dengan tanah tersebut. Dari 26 kecamatan,
14 terkena terjangan gempa membuat akses antar desa menjadi sulit dijangkau. "Sebenarnya kami ingin mengungsikan keluarga kami yang selamat ke rumah saudara, tetapi tidak ada sarana angkutan," kata salah seorang korban gempa di RS Dr Suradji Tirtonegoro kepada Presiden SBY yang mengunjungi rumah sakit tersebut.
Sampai saat ini, konsentrasi relawan kemanusian masih pada evakuasi korban di rumah sakit-rumah sakit. Hanya ada sedikit orang di luar warga sekitar yang masuk ke daerah-daerah yang terkena gempa untuk membantu warga yang sebenarnya juga sangat membutuhkan bantuan tenaga. Sepanjang pengamatan TEMPO, baru ada dua tenda milik Kopasus yang didirikan di daerah Kecamatan Wedi. "Kalau tidak ada bantuan dari luar, kami ndak mungkin mampu membangun kembali tempat tinggal ini. Untuk memberesi reruntuhan saja sudah tidak sanggup lagi," kata Suwarto warga Karangturi Gantiwarno.
Imron Rosyid, Tempo





