Perokok Remaja Indonesia Tertinggi di Dunia

Kamis, 01 Juni 2006 | 01:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah menduduki peringkat kelima jumlah perokok terbesar di dunia, Indonesia juga cetak rekor baru, yakni jumlah perokok remaja tertinggi di dunia.

"Sebanyak 13,2 persen dari total keseluruhan remaja di Indonesia adalah perokok aktif," ujar Hakim Sorimuda Pohan, anggota Komisi IX DPR RI seusai acara peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia kemarin. Di negara lain, jumlah perokok remaja tertinggi hanya mencapai 11 persen.

Jumlah perokok yang meninggal pun cukup signifikan. "Dari total 1,2 juta orang di kawasan Asia Tenggara yang menggunakan bahan baku tembakau, 25 persen dari Indonesia di antaranya meninggal dunia," kata Firdosi Mehta dari WHO.

Angka tersebut cukup signifikan mengingat makin banyaknya produsen rokok baru dari luar maupun dalam negeri yang menyerbu pasar di Indoensia.

indra manenda rossi

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda [3] :

  • Naikan harga rokok

    saya masih 12 tahun, dan saya perokok berat.
    kalau rakyat prihatin akan tingginya jumlah perokok di Indonesia, kenapa pemerintah tidak berhentikan saja produksi rokok?
    sampai anak muda di Indonesia saja sudah banyak yang jadi perkok aktif...
    saran saya, tutup saja pabrik rokok di indonesia, atau paling tidak, rokok di Illegalkan saja di Indonesia, gampang kan?
    atau saran yang paling simple, kalau mau beli rokok, harus tunjukkan KTP yang ,menunjukkan 20+ supaya anak muda tidak bisa merokok sembarangan lagi....
    thanx...

  • Rokok

    kalau rokok dapat merusak oragan tubuh,,1
    ngapain juga rokok di indonesia di produksi,,!

  • Komentar rokok

    saya prihatin dengan tingginya konsumsi rokok di Indonesia. Bingung juga untuk mengatasi masalahnya sudah jadi kebiasaan sih. Saya harap dari dinas kesehatan ada andil untuk menurunkan tingkat konsumsi rokok khususnya perokok usia muda.

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan