Derita Nadir Pasca Helsinki

Senin, 07 Agustus 2006 | 12:24 WIB

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur:Nadir bin Yusuf, 29 tahun, seorang mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), belum bisa menikmati sepenuhnya perjanjian damai yang ditandatangani antara petinggi GAM dengan pemerintah Indonesia di Helsinki, Agustus 2005. Hingga kini sebuah peluru bersarang di kemaluannya saat terjadi kontak tembak dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) beberapa hari sebelum perjanjian damai diteken.

Saat itu, perut para geriliawan GAM mulai terasa lapar. Bekal yang bisa dimakan sudah habis. Nadir dan empat rakan sepasukannya turun gunung, mencari beras dan beberapa keperluan lainnya. Di tengah perjalanan mereka disambut desingan peluruh milik TNI. Kontak tembak antara pasukan GAM wilayah Paseh dengan TNI pun terjadi.
Namun Nadir bernasib sial. Pemuda kelahiran Nisam, Aceh Utara itu, tertembak tepat di alat vitalnya. Nadir terluka cukup parah. Serpihan peluruh bersarang di kemaluannya. Di Aceh, dia mendapatkan perawatan yang sangat minim. Atas inisiatif rekan sepasukannya, Nadir dilarikan ke Malaysia secara ilegal dengan tujuan berobat.

Mereka mempersiapkan keperluan ala kadarnya. Nadir dan lima rakannya berangkat dari Lhokseumawe, Aceh, menuju Tanjung Balai Asahan, Medan. Dari Medan mereka menuju Batam, kemudian memasuki Malaysia melalui negara bagian Johor dan menetap di Selayang, Selangor, setelah mendapat kartu dari kantor perwakilan UNHCR di Kuala Lumpur.

Nadir mendapat bantuan pengobatan dari NGO - JRS (Jesus Refuges Service). Namun belum maksimal. Serpihan peluruh yang kecil belum bisa diangakt semuanya. Timah itu masih tertanam dalam batang kemaluan Nadir. Ternyata Nadir tidak sendiri dalam lindungan JRS. Terdapat tujuh mantan anggota GAM lainnya yang dirawat di Malaysia akibat luka tembak yang terjadi sebelum tertekennya perjanjian damai RI-GAM.

Saat bertemu Tempo di ruangan kerja Duta Besar KPH Rusdihardjo, Nadir tampak sehat, walau begitu, ternyata "senjatanya" masih tidak bisa berfungsi secara maksimal.
Nadir pun melayangkat surat yang ditandatangani tanggal 10 Juli 2006 ke Kedutaan Besar Republik Indonjesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Atase Pertahanan KBRI, Kolonel (Inf) Hartind Asrin menghadap bosnya, KPH Rusdihardjo, selaku Duta Besar RI untuk Malaysia. Kolonel Hartind, menyampaikan permintaan bantuan dana operasi Nadir. Dubes Rusdihardjo menyetujui untuk memberi dana bantuan kemanusiaan itu sebanyak 10 ribu ringgit Malaysia atau sekitar Rp 27 juta.

Maka pada tanggal 24 Juli silam, Nadir berbaring di meja operasi di Rumah Sakit Tawakkal, sebuah rumah sakit swasta di jantung kota Kuala Lumpur. Operasi itu dikomandani oleh ahli bedah rumah sakit tersebut, Datuk Dr. Hussein bin Awang dengan memakan waktu dua jam.
Hingga kini, Nadir belum sembuh total. Nadir ingin cepat sembuh agar bisa pulang menikmati perdamaian di Ranah Rencong. "Perjanjian damai Helsinki telah diteken, tapi saya masih menanggung penderitaan, dan mungkin penderitaan ini memakan waktu yang panjang," kata Nadir dalam satu kesempatan wawancara dengan Tempo di Kuala Lumpur.

T.H. Salengke, Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: