Amdal Khusus untuk Penambangan di Daerah Padat Penduduk

Senin, 07 Agustus 2006 | 17:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) khusus dinilai perlu untuk penambangan di kawasan padat penduduk. “Amdal khusus diperlukan untuk mengurangi risiko penambangan, baik eksplorasi maupun eksploitasi,” kata ahli geologi Andang Bachtiar kemarin dalam diskusi kemarin.

Menurut mantan Ketua Ahli Geologi itu, Amdal khusus diperlukan untuk mencegah terjadinya kasus kecelakaan penambangan PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur. “Amdalnya tidak bisa disamakan dengan pengeboran di lepas pantai,” katanya. Dalam Amdal khusus itu, kata Andang, harus disebutkan penanganan penduduk jika terjadi kecelakaan seperti pipa bocor dan siapa yang harus bertanggungjawab jika terjadi kecelakaan.

Selama ini untuk tahap eksplorasi, perusahaan pertambangan hanya diwajibkan memenuhi dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pelestarian Lingkungan. Amdal baru dilengkapi setelah memasuki tahap ekploitasi. Karenanya, kata Andang, aturan tentang Amdal harus ditinjau ulang. Ketidak pastian mengenai penduduk sekitar harus dirangkum dalam sebuah perencanaan yang sangat hati-hati. “Implikasinya mungkin beberapa meter dari lokasi pengeboran harus dibebaskan,” katanya.

Selama ini tidak ada ketentuan hukum yang mengatur keselamatan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pertambangan. Akibatnya, kata Andang tidak ada satu pun kecelakaan di kawasan pertambangan minyak dan gas yang bisa diatasi hingga tuntas.

Pada dasarnya, kata Andang, pulau Jawa layak dijadikan sentra produksi minyak dan gas untuk menunjang ketahanan energi. Jawa Timur, misalnya, merupakan lumbung energi karena banyak cadangan minyak baru ditemukan dan baru sedikit yang diekploitasi. “Sekitar 860 juta barel minyak ada di situ, belum termasuk Porong,” ujarnya.
Namun, kata Andang, jika berbenturan dengan aspek sosial dan kompleksitas ekonomi penduduk sekitar tambang, kemungkinan pengeboran dapat ditinjau ulang. “Jangan sampai ada benturan,” katanya.

Direktur Eksekutif Greenomics -- lembaga swadaya masyarakat yang bergiat di bidang lingkungan -- Elfian Effendi mengatakan kasus Lapindo merupakan pelajaran besar bagi para investor sektor migas terhadap risiko kesalahan teknis dalam pengeboran. l Nur Aini

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :