Dana Ujian Paket Belum Jelas

Senin, 14 Agustus 2006 | 15:57 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Dana ujian kesetaraan Paket B dan C dari pemerintah pusat belum turun meski pelaksanaannya hanya kurang dua pekan lagi. Keadaan ini membuat pemerintah daerah selaku pelaksana kegiatan tes ujian khawatir.

"Sampai sekarang belum ada penjelasan soal biaya ujian penyetaraan baik paket B maupun C," ujar Kelik Isnawan, Kepala Sub Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Kota Solo, Jawa Tengah tadi siang. Padahal, sebelumnya Menteri Pendidikan Nasional berjanji akan menanggung biaya ujian penyetaraan itu.

Kelik memperkirakan anggaran pelaksanaan ujian kesetaraan itu mencapai Rp 65 ribu per orang untuk komponen pembuatan soal, pelaksanaan ujian, termasuk untuk honor pengawas serta distribusi soal. Dana itu tidak termasuk biaya pembelajaran yang harus diikuti peserta ujian penyetaraan.

Kepala Seksi Pendidikan Luar Sekolah, Dinas Pendidikan Kota Solo Soepono mengatakan biaya operasional pelaksanan ujian keseteraan Paket B dan C di Solo kemungkinan besar akan diambil dari biaya pembelajaraan masing-masing penyelenggara.

Ujian kesetaraan yang akan dilaksanakan mulai 28 Agustus mendatang diselenggaran secara gratis. Dinas Pendidikan Solo meminta agar kelompok penyelenggara ujian persamaan menyisihkan sebagian dana pembelajarannya bila pemerintah pusat tidak memberikan dana.

"Dana pembelajaran adalah biaya yang dipungut dari peserta untuk segala kegiatan pelaksanaan ujian Paket, misalnya untuk tentor, sewa gedung dan modul-modul yang diperlukan,” kata Soepono. Besarnya ditentukan oleh masing-masing penyelenggara. Program Paket B biaya pembelajarannya sekitar Rp 150 ribu, sedangkan Paket B pada sekitar Rp 300 ribu.

Jumlah peserta ujian kesetaraan di Solo pada tahun ini meningkat drastis. Menurut Kelik, dibandingkan tahun sebelumnya peserta Paket B naik 100 persen sedangkan Paket C naik 700 persen.

Ujian Paket B yang setara dengan SLTP akan diikuti 520 siswa. Sedangkan peserta ujian kesetaraan SMA atau Paket C mencapai 1.206 siswa. Kelik mengatakan, "Sebagian besar peserta ujian kesetaraan ini siswa yang tak lulus ujian nasional yang tidak mau lagi mengulang di kelas tiga," ujarnya. imron rosyid






Komentar Anda

Kirim