close

Wakil Ketua DPR Sarankan Presiden Pecat Tim Ekonominya

Senin, 21 Agustus 2006 | 11:22 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif meminta Presiden Susilo Bambang Yudoyono memecat tim ekonominya berkaitan dengan pidato kenegaraan 16 Agustus lalu. Di mana Presiden membeberkan data kemiskinan Indonesia yang belakangan disorot kalangan pengamat sebagai data basi.

Menurut Zaenal, tim ekonomi Presiden yang harus bertanggung jawab karena memasukkan data lama sehingga pemerintah terkesan sangat berhasil. "Itu memalukan sekali. Presiden harus menjelaskan sendiri mengapa sampai hal itu terjadi. Kami menunggu saja apakah dalam pidato kenegaraan di depan rapat paripurna DPD 23 Agustus nanti Presiden akan memberikan penjelasan atau tidak," kata Zaenal Ma'arif di Solo, Senin siang ini.

Penggunaan data lama dalam pidato Presiden, katanya, bukan semata-mata kesalahan Presiden pribadi. Tim ekonomi Presiden yang menyusun naskah pidato kenegaraan harus ikut bertanggung jawab karena telah memanipulasi data kemiskinan dengan mencantumkan data-data 2005. "Karena itu, seharusnya Presiden memecat mereka dan menggantinya," ujarnya.

Seperti diketahui, dalam pidato kenegaraan 16 Agustus lalu, Presiden menyampaikan ada penurunan angka kemiskinan dari 23,4 persen menjadi 16 persen. Data tersebut kemudian diketahui merupakan data tahun sebelumnya.

Kepala badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta mengakui kalau data yang disajikan dalam pidato Presiden bukan data terbaru, melainkan data 1999 hingga 2004. Paskah berlasan pemerintah belum bisa menyajikan data terbaru hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional karena Badan Pusat Statistik baru mengumumkannya pada September nanti.

Imron Rosyid

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan