Kolam Lumpur Lapindo Bisa tampung Hingga 5 Bulan lebih

Rabu, 30 Agustus 2006 | 21:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar menegaskan pihaknya tetap melarang pembuangan lumpur Lapindo ke laut kecuali telah diolah (treatment) karena kolam penampungan masih bisa menampung lumpur hingga 5 bulan 17 hari.

“Kami tidak akan pernah mengijinkan dan sedikitpun tidak ada niat untuk itu, saya sangat keras pertahankan apapun juga agar tidak dimasukkan ke badan air” katanya sore tadi di ruang kerjanya.

Alasannya, masih tersedia 3 kolam penampungan yang cukup menampung semburan lumpur hingga 5 bulan 17 hari seluas 149 ha dengan daya tampung 8.335.605 m3 meskipun musim hujan di kolam penampungan. “Kalau cuma lumpur saja, tanpa air, bisa 2 tahun,” kata Rachmat. Seperti diketahui, semburan lumpur yang keluar 70 persen merupakan air. Konsekuensinya, harus merelokasi penduduk Desa Jatirejo. Saat ini, ketiga kolam itu telah terisi kurang lebih 4 juta m3 lumpur.

Berdasarkan rekomendasi ilmuwan, kata Rachmat, air hujan tidak akan bercampur dengan koloid lumpur, melainkan langsung mengalir sehingga tidak menambah volume pada kolam penampungan lumpur. Namun demikian, untuk meminimalkan dampak, air hujan yang “melewati” penampungan lumpur itu tetap akan diolah, meskipun diyakini air tersebut bersih tidak tercemar.

Selain itu, jika dibuang ke laut atau sungai, dapat mengancam kerusakan sektor perikanan laut dan tambak seluas 33.512,26 ha dari Sidoarjo hingga Probolinggo dan Madura serta menurunkan pendapatan 144.762 orang nelayan.

Selama kurun waktu hingga kolam penampungan penuh sekaligus persiapan jangka panjang jika semburan lumpur itu tidak bisa dihentikan, kata Rachmat, pihaknya telah meminta pembuatan water treatment plant. Agar air dan lumpur dipisahkan sehingga air dapat dibuang ke laut setelah diolah. Water treatment plant itu terdapat di utara sungai kali porong di sebelah selatan desa Besuki Kulon. “Whate ever the cost,” kata Rachmat.

Pihaknya juga akan memantau air hasil pengolahan yang akan dibuang ke laut agar betul-betul bersih dan aman serta sesuai baku mutu. Rencananya, dari pengolahan air lumpur, akan dibuat kolam akhir yang diisi dengan ikan untuk memastikan air yang akan dibuang bersih.

Deputi Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan, Gempur Adnan menambahkan, untuk pengolahan air, rencananya akan dipercayakan ke ITS yang dapat mengolah 5000 m3 per hari. “Kalau kapasitasnya kurang, tinggal tambah, ini cuma masalah dana,” katanya. Nur Aini






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: