Amblesnya Area Lumpur Tidak Mungkin Dihentikan

Senin, 04 September 2006 | 02:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Amblesnya permukaan tanah di wilayah yang digenangi luapan lumpur PT Lapindo Brantas mustahil dihentikan selama semburan lumpur tidak berhenti. "Tidak bisa dihentikan kecuali semburan lumpurnya bisa dihentikan, kalau berhasil kan tidak ambles lagi," kata Ketua Pusat Studi Bencana Institut Teknologi Sepuluh November, Amin Widodo, kemarin.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh ahli geologi bawah permukaan, Andang Bachtiar. "Selama keluar terus-menerus, akan ambles terus-menerus," kata Andang. Pernyataan kedua pakar ini mengomentari berita sebelumnya yang menyatakan bahwa area seluas 2 kilometer yang digenangi lumpur panas itu kini telah ambles sedalam 5 centimeter.

Namun Kementerian Lingkungan Hidup menganggap penurunan atau amblasnya lokasi di sekitar luapan lumpur Lapoindo tidak mengkhawatirkan. "Turunnya atau amblasnya kan perlahan, sejauh ini belum mengkhawatirkan," kata Asisten Deputi Urusan Pengelolaan B3 dan Limbah B3, Pertambangan, Energi dan Migas, Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani saat dihubungi Tempo, kemarin.

Soal tidak berbahayanya hal itu dibantah oleh Wakil Bupati Sidoarjo Syaiful Illah. "Bagaimanapun model amblesnya (cepat atau lambat seperti yang terjadi sekarang), yang namanya ambles tetap berbahaya. Untuk itu kami sebenarnya sudah mengharapkan bahkan sudah mewacanakan sejak awal untuk konsep relokasi permanen," kata dia.

Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Sidoarjo kini tak punya pilihan lain selain memindahkan penduduk yang dulunya tinggal di area itu. Relokasi ini hingga saat ini juga terus disosialisasikan kepada warga di sekitar Porong, karena mereka khawatir wilayah sekitar juga akan terkena dampak amblesnya area lumpur itu. Relokasi permanen menurutnya adalah langkah yang paling tepat yang saat ini bisa dilakukan.

Rasio dan juga Widodo berpendapat, satunya-satunya hal yang kini dapat dilakukan adalah mengisolasi lumpur, sehingga wilayah yang ambles pun tidak bertambah. Menurut Rasio, kini pemerintah tengah berupaya membuat tanggul permanen untuk mencegah perluasan area tampungan lumpur.

Mengenai rencana pembuangan air lumpur ke laut guna mengurangi debit lumpur di area itu, Rasio menjelaskan, saat ini sedang dilakukan pemurnian air dengan menggunakan teknologi dari ITS dan Australia dengan kapasitas 1.200 meter kubik lumpur per hari. Air yang sudah dipisahkan dari endapan lumpur, kata Rasio, akan dialirkan ke lau melalui pipa ke Selat Madura sepanjang 20 kilometer dengan diameter 500 cm. "Setelah memenuhi baku mutu baru bisa dialirkan ke laut," katanya. Namun jumlah yang bisa dimurnikan itu jauh dari jumlah lumpur yang keluar setiap hari, 50-70 ribu meter kubik.

Upaya untuk menambal sumber luapan dengan cara terakhir, yaitu relief well (pengeboran miring), juga mundur dari jadwal 5 September. Menurut anggota Tim 1 Penanganan Lumpur Lapindo, Rudi Rubiandini, keterlambatan itu karena perusahaan asuransi belum bersedia menjamin besarnya biaya rig yaitu US$ 15 juta-25 juta. "Mereka khawatir kalau-kalau tanggulnya jebol lagi dan lumpurnya mengenai peralatan," kata Rudi saat dihubungi Tempo, kemarin.

Nur Aini | Rini | Nieke | Rohman Taufiq






Komentar Anda

Kirim