TNI Dinilai Tak Tuntas Tangani Kasus Koesmayadi
Kamis, 28 September 2006 | 22:32 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:TNI dinilai masih setengah hati dalam mereformasi institusinya dilihat dari penangangan kasus penimbunan senjata di kediaman Koesmayadi. Meski TNI telah membentuk tim khusus untuk melakukan penyelidikan tetapi belum memperlihatkan hasil yang berarti.
Anggota Komisi Pertahanan DPR Dedy Djamaludin mengatakan tim jalan ditempat. "Saya belum lihat tanda-tanda di tubuh TNI ada langkah reformasi yang sesungguhnya" kata Dedy kepada Tempo.
Tim itu belum bekerja dengan optimal, masih terkesan menutup-nutupi kasus dan belum membuka informasi untuk kepentingan publik. TNI sepertinya mencari-cari alasan agar kasus itu hanya untuk kalangan internal saja karena kawatir akan menurunkan wibawa TNI. Padahal, Dedy berpendapat jika TNI mau lebih terbuka masyarakat justru akan kagum dan melihat adanya perubahan drastis di tubuh TNI.
Seharusnya TNI bisa membedakan rahasia negara dan kepentingan publik. TNI sebagai lembaga pemerintah harus bertangungjawab kepada negara jika terjadi penyelewengan. "Publik berhak tahu," kata anggota fraksi PAN itu. Namun selama ini kepentingan rahasia negara justru dijadikan dalih untuk TNI menutup-nutupi. Yang dimaksud rahasia negara adalah menyangkut kepentingan strategis seperti perang atau peta lawan, tetapi yang menyangkut penyimpangan harus tetap diusut untuk diketahui publik.
Sebenarnya ada dua alternatif dalam membentuk tim untuk mengusut kasus penimbuan senjata itu. Yang pertama TNI dapat membentuk tim internal tetapi bekerja secara maksimal, menjawab pertanyaan-pertanyaan publik tentang siapa sajakah yang terlibat dalam kasus itu. Secara logika, Dedy mengatakan tidak mungkin seseorang bisa bekerja sendiri dalam sebuah sistem. "Bagaimana mungkin dia bekerja sendiri dalam sebuah sistem tanpa ada restu atasannya," katanya.
Namun Dedy menyampaikan penghargaannya kepada Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, atas pernyataannya yang seharusnya ditujukan kepada KSAD Djoko Santoso kemarin. Dedy bermaksud mengkritisi KSAD tentang pengusutan pembocor dokumen TNI, tetapi oleh harian ini ditujukan kepada Panglima. Dedy mengtakan meski merasa Panglima keberatan, namun tetap mendahulukan dialog dan tidak memprotes substansi kritik yang ia sampaikan. "Ia keberatan hanya soal salah alamat saja tetapi tidak mencampuri substansinya" kata Dedy.
Aqida, Tempo





