Buku Hemat: Lewat Internet atau Fotokopi

Kamis, 05 Oktober 2006 | 00:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Di beberapa sekolah, kini tak ada lagi biaya sumbangan pembinaan pendidikan. Namun, biaya pendidikan, bagi sebagian orang tua murid, tetap dirasakan amat mahal. Selain untuk membeli seragam, juga buku pelajaran.

Sri Rahayu, misalnya, mengaku harus merogoh kocek hingga Rp 500 ribu untuk membeli buku pelajaran dua anaknya setiap tahun ajaran baru. Untuk Ryan Priyadi, yang duduk di kelas VI Sekolah Dasar 10 Pagi, Jakarta Timur, Sri mengeluarkan Rp 100 ribu untuk membeli sembilan buku lembar kegiatan siswa (LKS). Anggaran untuk Iin Priyani, yang duduk di kelas II Sekolah Menengah Pertama 148 Jakarta Timur, jumlahnya tiga kali lipat. Anggaran sebesar itu untuk membeli buku paket sembilan mata pelajaran wajib dan 14 buku LKS.

Kalaupun pemerintah mulai tahun depan jadi menyediakan buku-buku pelajaran yang bisa diakses gratis melalui Internet, Sri skeptis akan mengeluarkan dana lebih kecil.
"Memangnya bisa lebih murah?" kata dia ragu saat ditemui Tempo, Senin lalu.

Nyonya Barokah bahkan tegas menampik rencana pemerintah. Ibu dari Fadillah, teman sekelas Ryan, ini mengaku tak pernah membeli buku pelajaran bagi putranya. Dia lebih suka memfotokopi materi pelajaran yang diperlukan. Dengan cara itu, dia hanya mengeluarkan uang Rp 60 ribu, dari Rp 100 ribu kalau membeli buku.

Karena itu, Barokah yang bertubuh tambun ini mengaku tidak tertarik dengan rencana pemerintah menerbitkan buku melalui jalur maya. "Ngapain lewat Internet. Kalau bisa difotokopi, mending fotokopi saja," ujarnya.

Karena di sekolah belum ada fasilitas Internet, dia melanjutkan, untuk menyewa di warung Internet butuh biaya sekitar Rp 5.000-9.000 ribu per jam. Itu belum termasuk biaya cetak Rp 100 per lembar dan menjilid. Jadi, "Masih lebih irit fotokopi," katanya sambil tertawa.

Kritik juga datang dari Ratna Listyanti. Menurut guru Sekolah Menengah Atas Negeri 13 Jakarta Utara yang pernah berurusan di pengadilan dengan mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Akbar Tandjung ini, pemerintah harus memenuhi sarana dan prasarana bagi sekolah dan lembaga pendidikan di daerah agar bisa menikmati program tersebut.

Jika tidak, hanya siswa di kota-kota besar saja yang menikmati fasilitas ini. "Bukan begitu cara membuat pendidikan menjadi murah," kata guru yang menerbitkan buku Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Atas ini.

Namun, ia tidak total menampik rencana Departemen Pendidikan Nasional. Bagaimanapun, kata dia, program ini akan menambah suasana baru di tengah kejenuhan siswa menghadapi rutinitas sekolah. Penggunaan teknologi tetap akan memberikan pengalaman dan pengetahuan menarik bagi siswa. "Internet itu jendela dunia, harus dipelajari," kata Ratna. Rini Kustiani | Mustafa Moses






Komentar Anda

Kirim