Malaysia Dinilai Arogan

Selasa, 10 Oktober 2006 | 22:25 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Panglima Komando Armada TNI Kawasan Barat Laksamana Muda Moeryono menilai penembakan nelayan Indonesia di utara Pulau Berhala oleh Tentara Laut Diraja Malaysia dinilai keterlaluan. Pasalnya dalam perjanjian antara Indonesia dan Malaysia tidak digunakan kekerasan dalam penanganan kasus.

"Itu namanya arogan. Indonesia tidak pernah memperlakukan hal yang sama kepada nelayan Malaysia," ujar Moeryono saat meninjau dua kapal barang bukti perompakan dan pembajakan yang ditangkap tim buru sergap Pangkalan TNI III Banten, Selasa (10/10).

Kapal Super Jaya dengan nomer selar GT 25 no 730/Ppa merupakan kapal ikan Indonesia berjenis pukat langgar, melintas di utara Pulau Berhala 17 September 2006. Namun tiba-tiba datang kapal Patroli Malaysia KD Daung menembaki kapal Super Jaya dalam jarak 15 meter. Dua anak buah kapal Super Jaya terkena luka tembak.

Kapal Daung tersebut adalah salah satu kapal yang tergabung dalam operasi terkoordinasi Malindo ke 93/2006. "Kapal ini tidak mengaplikasikan prosedur tetap Patroli Malindo secara benar dan bahkan melanggar aturan main," tegas Moeryono.

Menurut Moeryono, dalam perjanjian Malaysia dan Indonesia, jika tidak sangat terpaksa maka tidak menggunakan kekerasan dalam penanganan kapal nelayan yang melintas di wilayah abu-abu.

Menurut Moeryono, TNI Angkatan Laut sudah menyampaikan nota keberatan dan disampaikan kepada pemerintah RI. Namun menurut Panglima, Tentara Laut Diraja Malaysia sudah menyampaikan penyesalannya atas kejadian penembakan tersebut.

Dia juga menghimbau agar nelayan Indonesia hati-hati dan waspada mencari ikan dan berlayar di wilayah abu-abu antara kedua negara. Karena menurutnya wilayah tersebut dinilai rawan timbulnya sengketa kedua negara.

Dian Yuliastuti, Tempo

TOPIK






Komentar Anda

Kirim