LSI: Islam Radikal Masih Signifikan
Minggu, 15 Oktober 2006 | 20:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyatakan keberadaan islam radikal masih sangat signifikan. Salah satu indikatornya, 9 persen dari 1092 responden yang merupakan pemeluk Islam mendukung aksi pengeboman di Bali.
Sebanyak 80, 7 persen responden menyatakan tidak setuju terhadap pengeboman seperti yang dilakukan Imam Samudra cs di Bali adalah jihad untuk membela Islam. Sebanyak 10,3 persen reponden menyatakan tidak tahu mengenai hal itu, namun 9 persen responden setuju.
Direktur Eksekutif LSI Saiful Mujani menilai angka 9 persen yang setuju ini sangat berarti. Menurutnya, jumlah Islam radikal itu tidak signifikan untuk kepentingan elektoral (pemilihan umum). “Tetapi jumlah itu cukup siginifikan untuk sebuah gerakan sosial,” kata Saiful dalam diskusi 'Prospek Islam Politik' di Hotel Nikko, Jakarta, tadi sore.
Menurut Saiful, angka 9 persen itu sama dengan 10 juta rakyat muslim Indonesia dewasa setuju pengeboman di Bali dan sangat banyak untuk sebuah gerakan politik. Ia menyimpulkan keberadaan Islam radikal seperti itu akan tetap hidup dan berkembang di Indonesia meski memiliki ruang gerak terbatas.
Indikasi lain hidupnya gerakan islam radikal, kata Saiful, ditunjukkan oleh 8,4 persen responden yang menyatakan demokrasi bertentangan dengan Islam. Sedangkan sebanyak 3,5 persen menyatakan Pancasila dan UUD 1945 bertentangan dengan Islam.
Pengamat politik Islam Bachtiar Effendy mengakui keberadaan gerakan politik seperti gerakan Islam radikal meski jumlahnya kecil. Namun, gerakan seperti itu tidak perlu disikapi dengan ketakutan atau reaksi yang berlebihan. “Di seluruh dunia ada orang-orang yang mempunyai paham itu,” kata dia.
Bachtiar memperkirakan kelompok Islam radikal itu akan berkembang jauh lebih pesat jika didukung oleh situasi politik ekonomi nasional yang berubah menjadi semakin buruk. “Orang akan kembali ke situ jika pemerintahan gagal,” ujarnya. Sebaliknya, kelompok radikal itu akan hilang jika Indonesia berhasil menjadi negeri yang makmur.
“Seperti di Singapura dan Malaysia, orang tidak akan berpikir membikin bom atau membikin negara Islam,” kata Bachtiar. Pemerintah masih mewaspadai kelompok-kelompok Islam radikal itu. tito sianipar





