Hasil Survei: Partai Islam Tak Akan Menang Pemilu

Minggu, 15 Oktober 2006 | 23:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Partai Islam diyakini tidak akan menjadi pemenang pemilihan umum. Perolehan terbanyak partai ini dalam sejarah hanya 42.5 persen pada Pemilu 1955. Hal ini disampaikan Pengamat Politik Islam Institut Agama Islam Negeri, Bachtiar Effendy dalam diskusi Prospek Islam Politik di Hotel Nikko, Jakarta, Minggu (15/10) petang.

Menurutnya, partai islam tidak bisa tampil sebagai partai penguasa layaknya partai-partai berbasis sekuler, seperti Partai Golkar, PDI Perjuangan, ataupun Partai Demokrat. Sebab, kata dia, wilayah politik partai islam terbatas. Partai islam kerap membawa isu-isu lama, seperti penerapan syariat, pembentukan negara islam, dan presiden beragama islam.

Bachtiar memaparkan, setelah Pemilu 1955 dukungan ke partai islam terus menurun. Data ini dikuatkan hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia pada 23 September hingga 3 Oktober 2006. Sebanyak 1092 responden berusia di atas 17 tahun yang beragama Islam lebih berorientasi partai sekuler dalam berpolitik.

Pada survei LSI kali ini, sebanyak 75 persen responden tak memiliki kedekatan emosional terhadap partai. Dari 25 persen yang merasa dekat dengan partai, hanya 5 persen yang merasa dekat dengan partai berflatform Islam (PKS,PBB, dan PPP). Sebanyak 5 persen lainnya dekat dengan partai berbasis ormas Islam (PKB dan PAN), sedangkan sisanya 13 persen merasa dekat dengan partai sekuler (P Golkar, P Demokrat, dan PDI-P).

Bahkan apabila pemilu berlangsung sekarang, hanya 9 persen responden memilih partai islam, 43 persen memilih partai sekuler. Sisa responden memilih partai dengan platform ormas islam serta tak menentukan pilihan.

Menurut Direktur Eksekutif LSI Saiful Mujani, islam politik pada tingkat elektoral dan politik kepartaian belum menunjukkan tanda membesar. “Partai islam harus melakukan adaptasi dan reorientasi sesuai kecenderungan umat,” katanya.

tito sianipar






Komentar Anda

Kirim