Tim Pemburu Aset Koruptor Masih Efektif

Kamis, 26 Oktober 2006 | 14:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kejaksaan Agung menganggap tim pemburu aset mereka masih efektif meski ada tim baru untuk mengejar aset koruptor kasus letter of credit fiktif BNI Cabang Kebayoran Baru. "Karena objeknya berbeda," ujar Wakil Jaksa Agung Basrief Arief ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (26/10).

Tim pengejar aset koruptor yang baru dibentuk April lalu, menurut Basrief, hanya mencari aset dari kasus L/C fiktif BNI. Sedangkan tim yang diketuai Basrief, mencari aset yang bukan hanya dari kasus BNI saja. "BNI hanya salah satu," kata Basrief.

Saat ini tim pemburu koruptor yang diketuai Basrief masih terus berupaya mencari aset-aset koruptor yang ada di luar negeri. "Semua dalam proses," ujar dia.

Pada April lalu, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Luar Negeri, pemerintah membentuk tim pemburu aset koruptor kasus L/C fiktif BNI Cabang Kebayoran Baru. Tim terdiri dari Departemen Luar Negeri, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Departemen Keuangan, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian RI. Namun Basrief mengatakan ia baru mengetahui pembentukan tim ini setelah ramai dibicarakan.

Dalam kesempatan berbeda, Sekretaris Panitia Kerja Recovery Aset BNI Komisi XI DPR Dradjad Wibowo mengatakan bahwa tim baru ini dibentuk berdasarkan permintaan dari panitia kerja Recovery Aset BNI komisi XI. "Karena kami melihat, recovery aset BNI masih sekitar 7 persen," ujar Dradjad.

Bahkan, tambah Dradjad, pencapaian aset BNI yang berada di luar negeri masih nol. Untuk itulah, panitia kerja meminta agar dibentuk tim terpadu yang juga melibatkan Depatemen Luar Negeri dan Interpol.

Permintaan ini dikemukakan panitia kerja sekitar bulan April. Saat itu, panitia kerja mengundang Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI Komisaris Jenderal Makbul Padmanegara, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Hendarman Supandji, dan BNI.

Menurut Dradjad, tim ini tidak akan tumpang tindih dengan tim yang diketuai Basrief. "Karena kedua tim dileburkan," ujar Dradjad. Departemen Luar Negeri, menurut Dradjad, memang menjadi unsur utama dalam tim. "Sebagai akses ke luar negeri, tim memakai Departemen Luar Negeri agar koordinasi lebih kuat," ujar Dradjad.

Fanny Febiana






Komentar Anda

Kirim