Efektivitas Melautkan Lumpur Sidoarjo

Jum'at, 27 Oktober 2006 | 15:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pada sidang kabinet beberapa pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan membuang lumpur panas Sidoarjo ke laut melalui Sungai Porong, sebuah keputusan tanpa diikuti dukungan ilmiah dan teknis yang kuat. Mengapa? Pertama, karena mesin pompa buatan Jepang yang ada--cuma satu unit--hanya mampu melakukan pembuangan lumpur panas 36 ribu meter kubik dalam sehari untuk kapasitas optimal, padahal volume semburan lumpur sudah mendekati angka 130 ribu meter kubik sehari. Dan bukti menunjukkan kian hari kian bertambah. Maka, dalam perhitungan saat ini saja, diperlukan paling tidak empat unit mesin pompa yang berkapasitas sama, dengan perhitungan semua mesin bekerja optimal. Dan jangan lupa, hanya tiga unit mesin pompa yang dipesan. Sampai akhir pekan ini baru satu unit yang tersedia.

Bukti lapangan memperlihatkan bahwa jarak 1,5 kilometer, terhitung dari kolam penampungan ke Sungai Porong, menyebabkan kapasitas pembuangan akan turun. Turunnya kapasitas pembuangan bukan semata karena jarak tersebut, tapi yang utama adalah lumpur panas, yang awalnya memang sudah kental, bertambah kekentalannya karena proses penguapan air sepanjang pipa baja yang berjarak 1,5 km tersebut. Jadi sangat mungkin terjadi pengendapan dengan jumlah yang besar di bagian muara (Kompas, 6 Oktober 2006). Usaha mengoptimalkan kerja unit pompa, yaitu dengan mengencerkan lumpur dengan ekskavator di atas ponton dalam kolam penampungan disertai dengan mengalirkan air ke dalamnya dan mengalirkan air dalam pipa, tampaknya belum membuahkan hasil karena uji coba pembuangan lumpur tertunda.

Kedua, karena kurangnya pemahaman tentang karakteristik lumpur panas yang keluar dari perut bumi dengan kedalaman lebih dari 3 km tersebut. Hal itu menyebabkan asumsi bahwa air akan terpisah dari lumpur di kolam penampungan di Desa Pejarakan dan Mindi. Bukti di lapangan menunjukkan pemisahan air dari lumpur hanya disebabkan oleh penguapan perlahan di atas permukaan. Terbukti adanya kerak lumpur yang terbentuk di atas permukaan lumpur. Pada tingkat ketebalan tertentu, kerak ini akan menghalangi penguapan berikutnya.

Lumpur panas terdiri atas partikel padat dan air yang menyatu dengan ikatan yang sangat kuat. Sifat partikel, yang terdiri atas senyawa makromolekul (massa molekul tinggi) dengan kepolaran tinggi pada ujung-ujung molekulnya, menyebabkan interaksi dengan molekul air sangat kuat. Inilah sebabnya mengapa air sulit dipisahkan dari lumpur. Usaha mengencerkan lumpur pekat dengan penambahan air tidaklah mudah, karena harus dibarengi dengan usaha pengadukan secara mekanik yang kuat untuk memecah sistem koloid air-partikel lumpur.

Jadi logika mengencerkan lumpur dengan ekskavator di atas ponton disertai dengan mengalirkan air ke dalamnya dan mengalirkan air dalam pipa agar lumpur lebih mudah dipompa adalah keliru. Sebab, yang akan terjadi adalah air yang ditambahkan akan tersedot terlebih dulu diikuti lumpur yang tetap kental. Karena air yang ditambahkan tidak menyatu dengan agregat lumpur, besar kemungkinan akan terjadi blocking alias mampet pada pipa penyalur. Ada tiga cara agar air yang ditambahkan ke dalam lumpur pekat menjadi encer, yaitu dengan pengadukan mekanik/tekanan yang kuat, dengan pemanasan, atau kombinasi keduanya. Inilah yang terjadi di bawah kedalaman lebih dari 3 km tempat asal lumpur.

Problem lain yang pasti akan muncul adalah pendangkalan di muara Sungai Porong, dimulai dari ujung pipa sampai belasan kilometer menjorok ke laut. Lagi-lagi, secara teknis dua kapal keruk (grab dredger) yang akan disediakan untuk menormalisasi bagian muara ini akan kewalahan. Ya, analisisnya sangat mudah, seperti berikut. Lumpur yang sudah berinteraksi dengan air laut (kandungan senyawa ionik terlarut tinggi) akan memecah sistem koloid air-partikel lumpur, sehingga partikel lumpur secara perlahan akan turun ke dasar laut dan air tertarik keluar. Secepat apa kita memompa lumpur ke muara, secepat itu pula terjadi pengendapan di muara. Artinya, kecepatan pompa pembuangan harus diimbangi dengan kecepatan kerja kapal keruk. Jadi sangat disangsikan dua kapal keruk mampu menormalisasi keadaan muara.

Problem besar berikutnya adalah nasib penambak udang di pantai. Walaupun penetrasi kandungan berbahaya dalam lumpur bergerak sesuai dengan arus air dan berjalan lebih lambat, hampir dapat dipastikan sejumlah senyawa kimia akan meracuni hewan primadona ekspor tersebut.

Solusi terbaik yang bisa ditawarkan saat ini adalah pisahkan air dan partikel lumpur dengan mencampurkan air laut ke dalam lumpur panas. Air laut akan memecah sistem koloid lumpur dan air akan tertarik keluar, sehingga partikel lumpur akan mengendap. Endapan lumpur harus diisolasi dan dibuang di lokasi yang tetap diisolasi untuk mencegah leaching senyawa kimia berbahaya yang ada dalam lumpur.

Semua problem yang muncul, dari awal tersemburnya lumpur panas dengan volume yang melebihi daya pompa, problem optimalisasi fungsi pompa, pendangkalan muara sungai, sampai problem pencemaran laut, harus dilihat sebagai satu rangkaian problem yang tidak boleh dipisah. Pemecahan semua problem teknis dan saintifik ini harus pula diperhitungkan dengan matang agar tidak memunculkan problem lingkungan baru yang menambah deretan problem yang sudah terjadi, yaitu keamanan hidup personel, komunal, ekonomi, dan lingkungan di tengah masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya.

Dr Agus Nurhadi, DEA, CHAIRMAN CENTRE FOR HUMAN SECURITY STUDIES UNIVERSITAS PARAMADINA

Sumber Foto: Google

TOPIK






Komentar Anda

Kirim