Konsolidasi Menggapai Puncak Ka'bah

Jum'at, 03 November 2006 | 00:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketika arus mudik di jalur Pantai Utara mencapai puncaknya, Sabtu, 21 Oktober, Toyota Alphard hitam yang ditumpangi Arief Mudatsir Mandan satu di antara yang merayap di jalur tersebut. Tapi dia bukan hendak mudik Lebaran, melainkan sowan ke pesantren Buntet di wilayah Astajapura, Cirebon.

Ia bersama lima anggota tim suksesnya, yang meluncur dari posko di Jalan Jeruk 6, Menteng, Jakarta Pusat, selepas subuh, baru tiba di pesantren asuhan Kiai Abdullah Abbas itu selepas asar. Tanpa banyak basa-basi, Arief mengutarakan maksud kedatangannya, yakni meminta restu karena akan maju sebagai kandidat Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Abdullah Abbas, yang telah berusia 90 tahun, pun mengangguk lemah.

Menjelang magrib, Arief dan rombongan singgah di kediaman Wakil Bupati Cirebon Nur Asyik untuk berbuka puasa dan menunaikan salat tarawih. Dari situ, dia menggelar pertemuan dengan 12 pengurus cabang PPP di Jawa Barat di Hotel Patra Jasa. Selain dari Jawa Barat, ia mengaku telah mengantongi dukungan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan sebagian wilayah Sumatera. "Daerah-daerah yang saya kunjungi sudah positif (mendukung)," ujarnya kepada Tempo kemarin.

Tak cuma pengurus cabang di daerah-daerah, Ketua Umum Hamzah Haz pun kabarnya lebih menyukai Arief untuk menggantikannya memimpin PPP. Indikasinya, dua putra mantan Wakil Presiden itu, Agus Haz dan Ivan Haz, kerap terlibat dalam kongko di Jalan Jeruk 6.

Konsolidasi dan sowan ke para kiai juga ditempuh Suryadharma Ali. Awal pekan ini, ia bertandang ke kediaman Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Sahal Mahfudz. Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah itu mengaku sengaja menyempatkan diri berkunjung ke sejumlah kiai NU. Sebab, secara emosional, dia adalah warga nahdliyin. "Saya ke sini hanya untuk silaturahmi," ujarnya sebelum melanjutkan perjalanan ke Sarang, Rembang, untuk bersilaturahmi ke KH Maemun Zubair dan KH Thoyfur.

Keseriusannya memimpin PPP telah dituangkannya dalam makalah bertajuk "PPP Masyarakat Madinah: Antara Pragmatisme dan Idealisme" yang disampaikan pada silaturahmi nasional Februari 2005. Di situ Surya menganalisis penurunan jumlah suara PPP yang signifikan. Ke depan, kata dia, PPP tidak bisa mengandalkan kampanye Islam saja, tapi juga lingkungan strategis seperti good governance.

Sedangkan Arief telah menerbitkan buku Trilogi Pembaruan PPP, yakni Revitalisasi Ideologi, Islam Indonesia, dan Berpihak kepada Rakyat. Ia optimistis membenahi citra PPP yang terpuruk tak akan memakan waktu lama. "Partai ini sudah mapan, potensi kadernya serta kepengurusan dari pusat sampai ranting sudah ada, dan pengalaman politiknya sudah banyak," ujarnya.

Figur lain yang berminat menjadi pucuk pemimpin partai berlambang Ka'bah itu adalah Endin A.J. Soefihara. Ketua Dewan Pimpinan Pusat PPP yang juga Ketua Fraksi PPP di DPR ini telah menggelar pertemuan untuk menggalang dukungan di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, 27 September 2006. Tim sukses dipercayakan kepada aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan Ansor, yakni Doni Tokan, Isa Muhsin, dan Syukur Sabang.

Basis dukungan, kata Syukur, selain dari Jawa dan Banten, diharapkan berasal dari Sumatera bagian utara serta Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Utara.

Satu-satunya calon dari luar Nahdlatul Ulama adalah Ali Marwan Hanan. Ali, yang berasal dari faksi Muslimin Indonesia, mendeklarasikan niatnya menjadi pemimpin PPP pada 11 Oktober lalu. Dua hari lalu, mantan Menteri Koperasi itu bertandang ke kantor Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Meminta dukungan? Sambil tertawa dia mengatakan Kalla sudah tahu dirinya berminat menjadi Ketua Umum PPP. "Beliau tidak mengatakan tidak usah atau mempersilakan maju, tapi dalam hatinya beliau pasti bilang silakan."

RINI KUSTIANI | YOPHIANDI






Komentar Anda

Kirim