Ketika Bumbu Dapur Meluncur ke Libanon

Kamis, 09 November 2006 | 00:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Terik matahari di area Jakarta International Container Terminal II begitu menyengat, Jumat pekan lalu. Beberapa pekerja pelabuhan berbaju biru dengan rompi oranye menyala dan helm biru terlihat sibuk menyiapkan beberapa mesin penjernih dan tangki air untuk dinaikkan ke kapal SS Wilson.

Tak jauh dari kapal komersial milik Amerika Serikat sepanjang sekitar 200 meter itu berderet puluhan kontainer bercat putih dengan tulisan "UN" (United Nations). Kapal bercat hitam ini telah bersandar di Pelabuhan Jakarta International Container Terminal II beberapa hari sebelumnya untuk mengangkut kendaraan dan logistik guna mendukung operasi perdamaian oleh Kontingen Garuda XXIII-A di Libanon.

Kapten Marinir Tedy, Kepala Seksi Logistik, serta beberapa petugas Perserikatan Bangsa-Bangsa mengawasi masuknya kendaraan dan semua bahan logistik ke perut Wilson. Kendaraan ditempatkan di empat lantai terbawah, sedangkan kontainer logistik di lantai teratas. Kontainer amunisi dan bahan berbahaya diletakkan paling ujung depan dan urutan di belakangnya kontainer barang basah, setelah itu baru kontainer barang kering. "Ini untuk menjaga risiko saat berlayar nanti," ujar Kapten Ifroh Bolby, perwira seksi logistik.

Menurut juru bicara Batalion Mekanis pasukan ini, Mayor M. Irawadi, ada 192 kendaraan tempur dan operasional pendukung, serta 56 kontainer logistik yang disiapkan. "Ketentuan PBB, dua hingga tiga bulan pertama self sustainment oleh negara asal. Baru setelah itu, makanan akan didrop oleh PBB," katanya kepada Tempo.

Seluruh logistik yang dibawa digolongkan menjadi tiga, yakni barang yang berbahaya, bahan kering, dan bahan basah. Dari 56 kontainer, 34 kontainer di antaranya berisi bahan kering berisi perlengkapan perorangan prajurit, alat kerja, tenda base camp, karung, serta obat-obatan.

Di antara puluhan kontainer bahan kering itu terselip beberapa kontainer yang tak kalah pentingnya untuk obat kangen dengan Indonesia, yakni bahan makanan dan minuman. Agar tak jenuh dengan makanan instan, disiapkan juga tiga kontainer sayur-mayur dan buah-buahan yang dimasukkan dalam kontainer berpendingin.

"Termasuk di dalamnya bumbu dapur, daun salam, ikan asin, dendeng, telur asin, dan sambal pecel, semua ada," ujar Valian, prajurit TNI Angkatan Darat dari Kesatuan Batalion Kavaleri VII.

Semua perbekalan yang diangkut ini telah disiapkan di Markas Komando Yonif I Cilodong dan Bagian Perbekalan di Cilincing. Persiapan ini cukup membuat sibuk prajurit karena ketidakpastian tanggal keberangkatan. "Sempat dibongkar, terutama bahan logistik basah, seperti sayuran," ujarnya. Untuk tim aju (advance), perbekalan selama tiga pekan juga telah disiapkan, dan akan diangkut dengan pesawat kargo.

Perjalanan kapal selama 20 hari yang membosankan akan dirasakan Valian. Dia akan bertugas merawat puluhan kendaraan operasional selama perjalanan, seperti memanaskan mesin kendaraan dan perlengkapan elektronik.
Sebagai anggota TNI Angkatan Darat yang tak bersinggungan dengan laut, ia mengaku sedikit khawatir dirinya akan mabuk laut. Untuk menangkalnya, ia membawa sekotak obat antimabuk. "Katanya obat yang ampuh, minum air lautnya," ujar Valian.

Meskipun perbekalan sudah disiapkan, beberapa anggota tim aju ada yang menyelipkan perbekalan yang menjadi kegemaran pribadi. Jika Valian menyisipkan sambal pecel, Letnan Satu Muhamad Iftitah, anggota Yonkav VIII, membawa dua kaleng besar keripik pisang manis. "Saya bilang ini diirit-irit selama perjalanan biarpun di kapal sudah banyak makanan," ujarnya sambil tertawa. DIAN YULIASTUTI






Komentar Anda

Kirim