"Mereka Biasa Berbohong"

Selasa, 21 November 2006 | 02:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Tak mudah bekerja sama dengan pasien korban perdagangan orang (trafficking). Entah karena syok, trauma, malu, atau takut, banyak di antara mereka yang berubah-ubah dalam memberikan keterangan, bahkan untuk nama atau alamat sekalipun.

"Ada yang secara fisik jelas berasal dari Indonesia Timur, tapi namanya berbau-bau Jawa," kata Yeremia S. Wutun, Asisten Bidang Pemulihan Korban Perdagangan Orang Organisasi Migran Internasional (IOM), memberikan ilustrasi.

Karena itu, dia melanjutkan, petugas konseling atau psikolog harus memiliki kesabaran ekstra saat berhadapan dengan mereka. "Mereka kan sering dibohongi, jadi biasa saja jika berbohong," ujarnya.

Mulai Juni 2005, IOM bekerja sama dengan Rumah Sakit Soekanto untuk membantu mengidentifikasi dan pendampingan para pasien sampai mereka kembali ke keluarganya dan memiliki pekerjaan atau kegiatan. Rumah sakit ini dipilih, kata Yeremia, karena banyak kasus yang harus dibuat berita acara pemeriksaannya. Selain itu, rumah sakit ini juga menyediakan 18 dokter spesialis, termasuk dokter jiwa.

Untuk memberikan penyadaran kepada para pasien, IOM biasa memfasilitasi diskusi kelompok seputar kasus perdagangan orang. Dengan cara itu, mereka akan saling berbagi tentang pengalaman masing-masing. Sesekali mereka berekreasi ke tempat umum dan diputarkan film tentang trafficking. "Ada yang langsung diam atau menangis ketika menonton film tentang itu," ujarnya. Rini Kustiani | Dian Yuliastuti






Komentar Anda

Kirim