Dari Sukoharjo untuk Tentara Mancanegara
Selasa, 28 November 2006 | 00:34 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dibandingkan dengan PT Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) dan PT Dirgantara Indonesia, PT Surya Sentra Ekajaya (SSE) atau PT Sritex memang belum terlalu populer sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan. Padahal produk kedua perusahaan swasta ini telah dinikmati kalangan militer di sejumlah negara asing.
PT SSE, misalnya, berhasil membuat kendaraan angkut personel lapis baja P2-APC (Armoured Personnel Carrier), kendaraan komando lapis baja P2 Komando, dan kendaraan khusus lapis baja P3-RANSUS. Jika kendaraan sejenis buatan Pindad ditujukan untuk pasukan kavaleri melawan panser, APC ditujukan untuk infanteri.
Meski belum resmi digunakan militer, Departemen Pertahanan telah memberikan izin lisensi ekspor kepada perusahaan yang berbasis di Tangerang ini. "Kami telah menjual lima unit P2-APC kepada Kepolisian Sri Lanka," kata Udjang Subekti, desainer ketiga kendaraan itu, saat ditemui Tempo di arena Indo Defence 2006 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Sabtu lalu.
Hebatnya, penjualan dilakukan tanpa menggunakan agen asing. Soal harga, karena semua bahan baku berasal dari dalam negeri, bisa ditekan hingga separuh harga kendaraan tempur yang dibuat negara industri. Tanpa senjata, kata Udjang, P2-APC dijual dalam kisaran Rp 3-4 miliar per unit. Bila ditambah dengan senjata sesuai dengan keinginan pembeli, "Harganya bisa mencapai Rp 5-6 miliar."
Selama pameran alat utama sistem pertahanan, yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara itu dan berlangsung pada 22-25 November, sejumlah pejabat militer dari Kamboja, Vietnam, dan Iran memperlihatkan animo dan apresiasi terhadap P3-RANSUS. "Tapi Iran masih mau lihat investasinya dulu," ujar Udjang.
Perusahaan garmen Sritex juga salah satu perusahaan yang produknya berkibar di mancanegara. Senior Merchandiser Garment Sritex Torang Siburian mengungkapkan tentara nasional Jerman dan Inggris telah mempercayai perusahaannya untuk membuat pakaian loreng antiinframerah.
Kerja sama dengan Jerman telah dirintis sejak 1983. Tiap tahun, Sritex dipercaya memasok 75-100 ribu set. Ketika Perang Teluk meletus pada 1990-an, Inggris pun menjajal kehebatan seragam militer produk Sritex. "Kami hanya diberi waktu tiga bulan untuk pengerjaan dan pengiriman," ujar Torang.
Kini perusahaan yang bermarkas di Sukoharjo, Jawa Tengah, itu telah melayani pembuatan seragam militer untuk 12 negara. Selain Jerman dan Inggris, pelanggannya adalah Abu Dhabi, Yunani, Australia, Brunei Darussalam, Papua Nugini, Swiss, Filipina, Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi.
Khusus untuk tentara Abu Dhabi, Sritex mengembangkan jenis bahan baru yang tidak mudah sobek. Mengingat kondisi negara itu penuh gurun, bahan baku dibuat setipis katun agar tidak terlalu panas jika dikenakan. "Pokoknya tipis sekali dan ringan. Serat kainnya kami campur dengan tulang," ujar Torang.
Sedangkan bahan pakaian yang antiinframerah, ia mengaku mencampurnya dengan bahan kimia khusus yang didatangkan dari Swiss. Tingkat kesulitan membuat produk jenis ini lebih karena warna baju dan motif loreng yang tidak boleh diubah.
Kunci mengatasi hal itu mau tak mau harus dengan uji laboratorium minimal tiga kali. Padahal dana untuk satu kali uji bisa mencapai US$ 2.000.
Dengan biaya eksperimen yang tinggi, hanya untuk bahan, Sritex menjajakan pakaian itu dengan harga US$ 35 per set atau sekitar Rp 350 ribu. "Tentunya kami memberikan harga khusus untuk TNI dan Kepolisian RI," ujarnya.
Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengharapkan, pada 2008, industri nasional sudah bisa mengembangkan teknologi pertahanan madya, seperti pesawat transportasi dan kapal patroli.
"Kalau pada tingkat alat pukul, seperti pesawat tempur dan kapal selam, mungkin belum bisa kita produksi 10-15 tahun mendatang," katanya. Karena itu, TNI-Polri masih mengandalkan alat utama sistem pertahanan produksi negara lain. Rieka Rahadiana





