Indonesia Minta Perjanjian Pelucutan Senjata Nuklir Diperkuat

Sabtu, 09 Desember 2006 | 00:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Indonesia meminta International Atomic Energy Association untuk memperkuat sistem proliferasi pelucutan senjata nuklir. "Presiden melihat sistem proliferasi belakangan ini rapuh," kata Juru Bicara Kepresidenan, Dino Patti Djalal, dalam keterangan persnya di Kantor Presiden usai pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Direktur IAEA, Mohamed ElBaradei, Jumat (8/12).

Yudhoyono mengatakan, perjanjian proliferasi harus terus dikembangkan. Presiden menghimbau negara-negara yang memiliki senjata nuklir segera melucutinya untuk mewujudkan dunia yang damai dan bebas dari senjata pemunah massal

Ia berharap IAEA terus mempelopori penggunaan nuklir untuk tujuan damai. Presiden yang didampingi oleh Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman, juga membicarakan kerjasama bilateral di bidang kesehatan, pertanian, dan energi antara Indonesia dengan badan atom dunia tersebut.

Sementara itu Baradei mengatakan, dirinya setuju dengan Yudhoyono bahwa sistem proliferasi nuklir perlu diperkuat. Baradei mengatakan pihaknya juga setuju untuk segera menyelesaikan masalah nuklir Iran dan Korea Utara dengan jalan diplomasi dan negosiasi. "Sanksi (untuk Iran dan Korut) bukanlah solusi," ujarnya.

Baradei mengatakan, IAEA akan terus mewujudkan pelucutan senjata nuklir sesuai dengan perjanjian non proliferasi pada 1970. Langkah yang akan ditempuh, kata dia, adalah pengontrolan teknologi pengayaan dan pemprosesan nuklir yang dapat digunakan untuka membuat senjata nuklir dalam waktu singkat.

Selain masalah nuklir, Baradei secara khusus meminta Indonesia untuk memainkan peran aktif dalam rekonsiliasi dunia Islam dengan dunia Barat. Menurutnya, Indonesia yang berbasis toleransi, dan keragaman budaya, dan inklusivitas dapat menjadi model bagi dunia islam menuju modernitas.

OKTAMANDJAYA WIGUNA






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: