Uni Eropa: Perdamaian Aceh Bukti Kekuatan Soft Power

Rabu, 13 Desember 2006 | 21:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Proses perdamaian di Nangroe Aceh Darusalam membuktikan bahwa kekuatan soft power bisa lebih efektif menanggulangi konflik. "Keseluruhan proses perdamaian di Aceh memerlukan biaya yang jauh lebih kecil daripada yang dikeluarkan Amerika Serikat di Irak perjamnya," kata Ketua Misi Pemantau Pemilu Uni Eropa Glyn Ford saat konferensi pers tentang Pilkada Aceh di Hotel Mandarin Jakarta, Rabu (13/12).

Pernyataan Ford yang sebelumnya diklaim sebagai pernyataan pribadi ini mendapat dukungan dari Jurgen Schroder, salah satu anggota parlemen Uni Eropa yang juga hadir dalam kesempatan ini. "Itu bukan hanya pernyataan Glyn, tapi juga pernyataan kami," ucap Schroder mewakili parlemen Uni Eropa.

Proses perdamaian di Aceh yang telah mendekati puncaknya ini menurut Uni Eropa telah berjalan dengan sukses dan lancar. "Pilkada telah berjalan lancar, pemimpin daerah telah terpilih dengan damai, ini berarti proses perdamaian sedikit lagi mencapai puncaknya," ucap Schroder. Semua itu menurutnya merupakan bukti dari komitmen masyarakat Aceh akan integrasi dan konsolidasi.

Oleh karena itu, walaupun AMM akan segera dibubarkan Uni Eropa akan tetap bekerjasama dengan Aceh. Selama ini masyarakat Aceh memiliki pendapat yang baik terhadap AMM dan Peter Feith, oleh karena itu apapun yang terjadi ke depan mereka akan tetap berkomitmen untuk membantu Aceh. "Ada ataupun tidak AMM, Peter Feith dan orang-orang yang terlibat akan selalu bersedia membantu jika Aceh membutuhkan," ucap Glyn. Dia juga menyampaikan hal yang sama tentang komitmen Uni Eropa di Aceh.

Titis Setianingtyas






Komentar Anda

Kirim