Inter Peace Akan Gantikan Peran Aceh Monitoring Mission

Kamis, 14 Desember 2006 | 21:37 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Marti Ahtinaasari, mantan presiden Finlandia, direncanakan akan melanjutkan peran Aceh Monitoring Mission (AMM), yang telah bertugas membantu pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam implementasi penandatanganan kesepahaman (MoU) Helsinki.

Tokoh dalam perdamaian Aceh itu akan mengirim Inter Peace, lembaga swadaya yang dipimpin Marti sendiri. Hal tersebut diunggkapkan Pieter Feith, Ketua AMM, dalam konprensi pers kemarin.

Pieter Feith mengatakan, tim Inter Peace akan tiba di Aceh dalam beberapa pekan ke depan. Lembaga ini mendapat sokongan dana dari banyak negera. “Di antaranya Irlandia, Canada dan Jepang,” katanya, Kamis.

Rencana ini mendapat dukungan pemerintah Indonesia. Menurut Fieter Feith, tim Inter Peace lebih kecil jumlahnya dibanding AMM. ”Saya berharap nantinya mereka yang menjelaskan programnya,” kata Pieter Feith.

Dalam empat bulan terakhir mandat AMM meliputi penyelidikkan dan memutuskan pengaduan serta tuduhan pelanggaran terhadap nota kesepahaman. Selain itu, membentuk dan memelihara hubungan dan kerja sama dengan semua pihak.

Pieter Feith menilai pemerintah Indonesia dan GAM sudah mengimplementasikan MoU Helsinki dengan baik. Ia sendiri sebelum kembali ke negara asalnya, sudah menyampaikan harapannya agar kedua pihak melanjutkan perdamaian.

Menyangkut soal kondisi Aceh ke depan, menurut Pieter Feith, akan berada ditangan gubernur. “Gubernur berhak menjalankan berbagai aspek dalam otonomi,” katanya.

Terkait masih adanya pengunaan simbol-simbol GAM, menurut Pieter Feith, ada kesepekatan umum dengan Malik Mahmud, Perdana Menteri GAM, bahwa pengunaan simbol-simbol melemahkan komitmen GAM terhadap MoU. “Irwandi Yusuf (calon gubernur yang memperoleh suara terbanyak) juga tahu itu.”

Irwandi Yusuf, mantan utusan senior GAM di AMM, manyatakan dalam MoU disebutkan larangan pengunaan simbol-simbol militer dan larangan bagi eks tentara GAM A mengunakan uniform, simbol-simbol, serta emblem-emblem militer.

Menurutnya, selama ini tidak pernah melanggar ketentuan itu. “Pieter Feith mestinya tahu yang mana simbol-simbol militer dan organisasi,” kata Irwandi.

Maimun Saleh






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: