close

Hatta : Potensi Maritim Belum Dimanfaatkan

Senin, 18 Desember 2006 | 11:19 WIB

TEMPO Interaktif, Padang:Menteri Perhubungan Hatta Radjasa mengakui potensi Indonesia sebagai negara maritim terbesar belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini ditandai dengan kehidupan sebagian masyarakat yang masih lebih berorientasi pada daratan dibanding lautan, karena kurangnya kesadaran sebagai bangsa maritim yang hidup di negara kepulauan.


"Pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam akhirnya lebih banyak di wilayah daratan," ujarnya dalam siaran pers pada perayaan puncak Hari Nusantara ke-7 tahun 2006, di Pelabuhan ASDP Teluk Bungus, Teluk Jabung, Padang, Sumatera Barat, Senin (18/12). Acara bertema "Perteguh Negara Nusantara untuk Tingkatkan Daya Saing Bangsa", yang jatuh tanggal 13 Desember, itu dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hatta menambahkan, wilayah laut Indonesia dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar harus dilindungi dan dikelola secara tepat untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan pencanangan pemberdayaan pulau-pulau terluar di Kabupaten Natuna,Riau beberapa waktu lalu, juga mengingatkan agar pemerintah daerah menjaga kedaulatan RI di pulau-pulau terluar dengan cara memberdayakan ekonomi masyarakat di pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Untuk itu, ujar Presiden kala itu, diperlukan sarana transportasi sebagai penggerak roda ekonomi dan jalur utama penghubung pulau-pulau di Indonesia.

Untuk kepentingan itulah, jelas Hatta, Departemen Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mengadakan kapal perintis guna menyediakan jasa pelayanan transportasi laut di wilayah-wilayah terpencil dan pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. "Sesuai amanat Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2005 untuk mewujudkan palayaran nasional menjadi tuan rumah di negeri sendiri."

Dalam peringatan Hari Nusantara ini Hatta juga meresmikan pengoperasian 3 unit kapal perintis, sekaligus menyerahkan operasi kapal itu kepada 3 pemerintah daerah, yaitu Pemda Maluku, Pemda Irian Jaya Barat dan Pemda Sulawesi Utara.

Kapal perintis itu ialah KM.Kasuari Pacific II tipe 500 DWT untuk ditempatkan di Pelabuhan Pangkal Sorong,Irian Jaya Barat, KM. Meliku Nusa tipe 500 DWT untuk Pelabuhan Pangkal Bitung, Sulawesi Utara dan KM.Wetar tipe 750 DWT untuk Pelabuhan Pangkal Ambon, Maluku.

Sampai 2006, Direktorat Hubungan Laut sudah membangun 20 unit kapal perintis. Dan untuk menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran, direktorat juga membangun sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) di 47 lokasi pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Dalam kesempatan itu Menteri Perhubungan juga memberikan penghargaan kepada mereka yang berjasa mendukung kelancaran penyelenggaraan transportasi laut di wilayah terpencil. Mereka antara lain: kategori penjaga menara suar teladan untuk Bernard Dongoran dari Distrik Navigasi Kelas II Belawan, Junaidi S dari Distrik Navigasi Kelas II Teluk Bayur dan Suparno dari Distrik Navigasi Kelas I Palembang.

Penghargaan kepada operator perintis teladan tingkat nasional yaitu PT.Mesamus, Merauke, PT.Surya Timur Sejahtera,Tual Maluku dan PT.Sinar Bahtera Maju,Surabaya.
Sedangkan penghargaan kepada awak perintis teladan nasional yaitu Yanuar Chaidir, nakhoda KM.Teguh Mulia, Lukimis, nakhoda KM.Nangalala dan Yohanes Buang, nakhoda KM.Terigas III.Badriah

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan