Presiden: Jangan Kaitkan Bencana Dengan Mistis dan Politik

Rabu, 20 Desember 2006 | 13:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat tidak menghubungkan bencana alam yang terjadi di Indonesia dengan hal-hal mistik dan politik. Indonesia secara geografis termasuk daerah rawan bencana sehingga rawan mengalami musibah.

"Negeri kita termasuk negeri yang rawan bencana, jangan salah tafsir, bencana itu tidak hanya terjadi baru-baru ini saja," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu(20/12), saat memberi sambutan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional 2006, di Stadion Manahan Solo.

Presiden mengatakan sejak ribuan tahun lalu, bencana alam selalu melanda Indonesia. Misalnya, letusan gunung di Sumatera yang membentuk danau Toba. "Konon itulah letusan gunung api yang terdahsyat mengubah atmosfir dan cuaca permukaan bumi," ujat Presiden. Bencana alam yang tidak kalah dahsyat adalah letusan gunung Tambora dan Krakatau.

Tsunami di Aceh, kata Presiden merupakan bencana terbesar abad 21 ini. Indonesia, kata Presiden yang berada dalam posisi geografis yang rawan bencana. Karena itu, Presiden mengharapkan masyarakat untuk meningkatkan kesetiakawanan sosial untuk membantu korban bencana alam. "Namun kita tidak mengharapkan terjadinya bencana di negara kita," kata Presiden.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga kembali mengucapkan ikut berduka cita atas terjadinya bencana tanah longsor di Solok dan gempa bumi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera. "Saya ingin mengungapkan rasa duka cita atas bencana yang menimpa saudara2 kita dikedua daerah itu," kata Presiden.

Pemerintah, kata Presiden telah membantu korban bencana alam itu. Namun, masyarakat juga diharapkan membantu korban dari bencana di dua daerah itu.

Peringatan Hari Kesiakawanan Sosial itu juga dihadiri Menterii Sosial Bachtiar Chamsah dan ribuan murid sekolah di Solo dan masyarakat. Acara itu juga diisi dengan tarian kolosal. sutarto | imron | anas

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: