Yang Berseri dan Lelah Menanti

Selasa, 26 Desember 2006 | 00:36 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejak pertengahan 2006, wajah Nurhayani, 42 tahun, senantiasa berseri. Di atas tanahnya, Desa Lampulo, Banda Aceh, kini berdiri tegak rumah tipe 36 yang dibangun atas prakarsa CARE International, sebuah lembaga swadaya masyarakat asal Kanada.

Berlapis cat oranye muda, rumah itu tampak asri dengan sederet pot bunga yang tertata rapi di teras. Di sana, ia tinggal sendiri karena suaminya ikut lenyap ditelan gelombang tsunami dua tahun lalu. Kedua anaknya yang selamat dipindahkan ke Medan. "Mereka bersekolah di sana dan tinggal bersama neneknya," kata Nurhayani kepada Tempo kemarin.

Meski tinggal sendiri, guru pada sebuah children center di Banda Aceh itu merasa sudah bisa menjalani hidup dengan sempurna. Kalaupun ada kendala, seperti pasokan air yang terbatas, ia mengaku amat beruntung karena tak lagi tinggal di tenda seperti ribuan saudaranya yang lain.

Yap Mie Chin, 50 tahun, tak seberuntung Nurhayani. Tapi sejak Oktober lalu dia sudah menempati rumah yang belum rampung di Desa Lamteumen Timur, Banda Raya, Banda Aceh. Rumah buatan Oxfam, LSM asal Inggris, dindingnya belum dipelester, jendela terbuat dari seng, dan atap masih bolong-bolong. Natal pun ia lewatkan bersama suami dan anaknya yang beranjak remaja dengan lebih damai ketimbang tahun sebelumnya. "Saya terpaksa tinggal di sini. Habis tidak ada tempat untuk tinggal," ujarnya.

Sebelum ada tsunami, Yap tinggal dengan menyewa sebuah rumah petak. Dengan uang bantuan rekannya dari Medan, ia dan 10 keluarga keturunan Cina lainnya membeli tanah dengan harga murah dan sistem mencicil. Oxfam kemudian membangunkan rumah buat mereka. Yon Thayrun, Media Officer Oxfam, menjanjikan rumah mereka akan tuntas pada Maret 2007.

Namun, masih ada ribuan orang yang belum tersentuh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) ataupun uluran tangan LSM. Irmawati, 37 tahun, dan Wansurdin, 35 tahun, misalnya, masih harus membetahkan diri tinggal di barak pengungsian di Lhoong Raya, Banda Aceh. "Rumah saya baru siap dibangun, tapi belum bisa dihuni," kata Wan.

Keduanya menilai BRR bekerja lambat dan tak adil. Sebab, ketika mereka masih tinggal di barak, justru tersiar kabar ada orang yang mendapatkan lebih dari satu rumah. Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto tak menepis kabar tersebut. Hal itu dimungkinkan karena seseorang mengaku memiliki tanah di satu lokasi dan meminta LSM asing untuk membangunkan rumah. Kemudian dia pindah ke tempat lain dan melakukan modus serupa.

Untuk mencegah keresahan, dia telah menunjuk Sulaiman A.B., mantan Komandan POM TNI, melakukan verifikasi dan validasi perumahan. Bagi warga yang mendapat rumah lebih dari satu, diminta untuk melaporkan segera. Tim ini mempunyai tanggung jawab mengawasi perumahan agar didapat merata oleh korban. Bagi yang tidak melapor nantinya, bila ditemukan akan diberikan sanksi sesuai dengan hukum.

Menurut Anis Baswedan dari Lembaga Survei Indonesia, kepuasan warga terhadap kinerja BRR selaku pelaksana dan penanggung jawab pembangunan kembali Aceh pascatsunami masih rendah. Namun, tingkat kepuasan warga terhadap pembangunan kembali Aceh pascatsunami tahun ini mencapai 40 persen dibanding tahun lalu yang cuma 25 persen. l Adi Warsidi | Reh Atemalem Susanti

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: