Kuntoro Mangkusubroto: Kami Terus Bekerja
Selasa, 26 Desember 2006 | 00:49 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejak dibentuk pascatsunami dua tahun lalu, kinerja Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias kerap dipertanyakan. Warga banyak yang memprotes karena kinerja BRR dianggap lambat. Namun, Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto menepisnya. Setelah menjadi penanggap hasil survei Lembaga Survei Indonesia, Jumat lalu, dia meladeni pertanyaan wartawan, termasuk Reh Atemalem Susanti dari Tempo. Berikut ini petikannya.
Apa saja yang telah dicapai BRR?
Kami telah membersihkan lahan dan sawah 80 persen, tambak ikan dan udang 50 persen, membangun 700 sekolah 700 dari 1.200 yang ditargetkan, 137 puskesmas dan rumah sakit dari 400, rumah sudah 78 ribu dari 128 ribu, serta jalan sekitar 30 persen dari 1.300-an kilometer.
Banyak pihak menilai BRR lamban, sebaliknya orang asing menyatakan puas?
Masyarakat internasional mengerti bahwa bencana yang dialami sangat besar, memang agak lain kalau tamu-tamu dari Jakarta yang datang. Saya kira itu hanya karena sudut pandang yang berbeda. Tapi yang penting kami terus bekerja. Di Kobe, Jepang pun butuh waktu 10 tahun untuk melakukan rehabilitasi.
Prioritas BRR?
Rumah menjadi top priority. Saat ini tak ada lagi yang tinggal di tenda, tapi di barak masih ada 11.703 keluarga. Mereka umumnya adalah penyewa yang tak punya rumah apalagi tanah. Rencananya, kami akan sediakan tanah dan bangunan yang disubsidi 40 persen. Sisanya mereka bisa mencicil selama 10 tahun.
Banyak keluhan, rumah yang dibangun tak ada listrik dan air?
Di beberapa daerah, sebelum ada tsunami pun memang sulit air. Masyarakat Aceh yang punya saluran air minum berapa persen, sih? Sekarang tidak punya air minum malah marah-marah. Itu bukan rekonstruksi, tapi pembangunan baru. Kami akan lakukan, tapi pasti makan waktu. Begitu juga halnya listrik. Harus dibedakan antara yang dulu ada dan sekarang kami adakan dan yang dari dulu memang belum ada.
Akan ada perubahan kebijakan dari BRR pada 2007?
Bukan perubahan, tapi transisi. Nantinya, apa-apa yang kami pikir bisa dikerjakan oleh pemerintah daerah, ya, diserahkan kepada mereka secara bertahap.





