Faktor Cuaca Paling Mungkin Penyebab Hilangnya Adam Air
Rabu, 03 Januari 2007 | 12:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ahli penerbangan dari Institut Teknologi Bandung Dr Hisar M. Pasaribu menduga pengaruh faktor cuaca yang dominan sebagai penyebab jatuhnya pesawat Adam Air. ”Kelihatannya tidak ada penjelasan lain,” katanya ketika dihubungi Tempo, kemarin.
Menurutnya, pesawat jenis Boeing 737-400 yang hilang dalam penerbangan rute Surabaya-Manado itu baru mengalami perawatan besar pada 2005. ”Kondisi pesawat secara umum baik, pilotnya juga cukup berpengalaman. Saya kira semuanya oke, ini perkiraan awal,” tuturnya.
Menurut ahli pengoperasian pesawat itu, ada dua dugaan yang mungkin terjadi akibat pengaruh cuaca buruk. Pertama, sang pilot terpaksa menurunkan ketinggian untuk mencari keadaan cuaca yang lebih baik guna menghindari cuaca buruk.
Dia menduga demikian karena ada informasi terputusnya kontak dengan tower di bandara serta pesawat itu hilang dari penghilatan radar.
Kemungkinan kedua, jelasnya, disebabkan oleh fenomena alam berupa angin turbulence yang terjadi akibat perbedaan tekanan udara. Kondisi ini umumnya dialami oleh daerah yang sering terkena bencana badai.
Untuk dugaan pertama, dalam aturan penerbangan pilot yang menghadapi cuaca buruk harus mengandalkan instrumen radar cuaca di pesawat – kalau pesawat itu memiliki alat tersebut. Penggunaan isntrumen itu diwajibkan dalam aturan penerbangan untuk pesawat yang terbang pada ketinggian 33 ribu-35 ribu kaki.
Namun, paparnya, daya jangkau instrumen tersebut terbatas sehingga sang pilot tetap harus mendapatkan petunjuk dari petugas tower bandara (ATC) untuk mengetahui kondisi cuaca dalam jangkauan yang lebih jauh. ”Tapi dibilangnya sudah lost contact, dia tidak mungkin lakukan itu,” katanya.
Terputusnya komunikasi, dia menambahkan, kuat dugaan akibat cuaca yang buruk. Dalam situasi cuaca buruk kerap terjadi komunikasi menggunakan gelombang radio terputus. ”Mirip seperti mendengar radio pada cuaca jelek, yang frekwensinya terganggu,” katanya.
Dari kondisi ini, dia menduga, pilot akhirnya mengambil keputusan sendiri menurunkan ketinggian pesawat untuk mencari kondisi cuaca yang lebih baik demi keamanan penerbangan.
Terbang rendah bukan tanpa risiko. Pilot, katanya, harus menjaga ketinggian agar tidak terlalu rendah untuk menghindari risiko menabrak gunung atau pesawat lain. Selain itu pilot harus mengandalkan penglihatan visual saat terbang rendah.
Kemungkinan lainnya, paparnya, keputusan untuk menurunkan ketinggian bisa jadi akibat adanya masalah dalam sistem pesawat. ”Bisa jadi dia terpaksa harus turun rendah karena ada sesuatu (gangguan) di pesawatnya,” katanya.
Untuk dugaan gangguan angin turbulence, jelasnya, bisa saja pesawat tertarik ke bawah. Fenomena yang ini dikenal sebagai fenomena kantung udara (air pocket) yang disebabkan oleh perbedaan tekanan udara pada ketinggian sekitar 30 ribu kaki.
”Bisa saja dia mengkonter situasi itu, pesawat kesedot sehingga kehilangan kendali lalu oleng dan kondisi terbangnya nggak bisa dikendalikan,” katanya. Dari uraiannya tersebut, Hisar mengaku tidak bisa memastikan mana yang lebih dominan.
Ahmad Fikri





